Meng-insepsi-kan diri

Nah, kalo yang satu ini kita pasti udah pada tau kan? Apa? Belum tau? Wahh, ternyata anda kuper sekali, film seterkenal ini aj tidak tau…

 

Okelah, supaya lebih mengena ke tulisan-tulisan berikutnya, sekaligus supaya ga penasaran lagi bagi yang belum tau film ini, saya akan menyampaikan sedikit sinopsisnya. Begini ceritanya…

 

*jreng..jreng..jreng

 

Dom Cobb (Leonardo DiCaprio), seorang pencuri yang terampil dan terbaik, mencuri rahasia berharga dari pikiran bawah sadar yaitu mimpi. Ia mencuri mimpi seseorang dengan suatu teknologi, yang membuat ia mampu memasuki mimpi seseorang dan mampu mengaturnya seseuai yang ia kehendaki. Cobb telah membuat kemampuan langkanya untuk menjadi pencuri bergensi di dunia tetapi juga membuatnya menjadi buronan internasional dan mengorbankan semua yang ia cintai.

Saat ini Cobb ditawari dibebaskan dari tuduhan kriminal panjangnya. Tugas terakhir ini akan mengembalikan kehidupan normalnya hanya jika dia bisa melakukan hal yang mustahil. Adalah Saito (Ken Watanabe), seorang CEO perusahaan internasional, yang menawarinya pekerjaaan tersebut. Tugas yang diberikan bukanlah mencuri ide dari pikiran seseorang, yang biasa ia lakukan. Namun, yang harus ia lakukan adalah “menanamkan suatu ide” ke seorang pewaris perusahaan raksasa saingan perusahaannya Saito, yaitu Robert Fischer, Jr. (Cillian Murphy).

Dalam menjalankan misinya, Cobb punya satu tim yang terdiri dari Ariadne (Ellen Page), Arthur (Joseph Gordon-Levitt) dan Eames (Tom Hardy), dan Yusuf (Dileep Rao).

Sayangnya di saat yang bersamaan Cobb harus berurusan dengan istrinya (Marion Cotillard) yang ternyata lebih suka tinggal di alam mimpi daripada dalam kehidupan nyata dan ia berusaha meyakinkan Cobb untuk tetap tinggal di alam mimpi ini. Celakanya lagi untuk mencapai harapannya ini, istri Cobb nekat bunuh diri di alam mimpi yang akhirnya membuat Cobb harus berurusan dengan hukum karena kematian yang terjadi di alam mimpi itu.

 

******

 

Film ini meninggalkan kesan luar biasa bagi yang telah menontonnya. Terlepas dari cinematography dan efek-efek fimnya yang mencengangkan, hal yang paling mambuat saya geleng-geleng kepala adalah ide ceritanya. “Inception” secara bahasa berarti “pendirian atau permulaan dari suatu kegiatan”, yang di cerita ini diartikan sebagai “penanaman suatu ide”, yang akan menginisiasi seseorang untuk melakukan suatu kegiatan berdasarkan ide yang telah ditanamkan tersebut.

 

Awalnya mungkin kita bertanya-tanya, apa yang istimewa dari penanaman suatu ide? Apakah itu hal yang luar biasa, seluar biasa film yang menceritakannya? Menanamkan suatu ide, pernahkan kita kepikiran akan hal itu?

 

Ya, ternyata ini adalah hal yang sangat luar biasa, bahkan sangat mengerikan. Ide adalah sesuatu yang bisa menggerakkan seseorang berbuat sesuatu, bisa suatu kebaikan atau kejahatan. Tentu kita tidak mengingkari, kalau lampu yang setiap hari kita nyalakan sebagai penerangan, awalnya bukanlah sebuah benda nyata, tapi sebuah ide. Begitu juga dengan pesawat, mobil, telepon genggam, komputer, bahkan kamar mandi, kesemuanya itu pada awalnya bukanlah benda nyata yang setiap hari bisa kita nikmati, tapi sebuah imajinasi yang melayang-layang di dalam pikiran seseorang, atau ide.

 

Bila di dalam pikiran atau kepala seseorang tertanam suatu ide, yang begitu amat-sangat kuat, maka hampir tidak ada sesuatu pun yang mampu menghalanginya merealisasikan ide tersebut. Dalam film ini, dikisahkan proses penanaman ide melalui mimpi sampai ke mimpi tingkat tiga, bahkan empat. Tujuannya adalah agar ide tersebut semakin melekat, semakin kuat memengaruhi kebijakan yang akan dilakukan orang tersebut. Di cerita “Inception” ini dikisahkan kalau ide yang ditanamkan adalah agar seorang pewaris perusahaan raksasa membubarkan perusahaan tersebut. Bisa terbayang, hanya dengan sebuah ide, perusaan luar biasa besar yang asetnya mungkin bernilai jutaan dolar dibubarkan dengan begitu mudahnya. Ini baru penanaman ke owner perusahaan, bagaimana bila suatu ide ditanamkan ke seorang pemimpin negara, misalnya Amerika, untuk memulai perang dengan rivalnya, misalnya Rusia? Perang dunia II menyisakan kisah tragis tentang para korban perang juga rakyat sipil yang ikut terkena getahnya. Di zaman sekarang, perang tidak hanya menggunakan senapan mesin atau pesawat bomber, tapi juga nuklir.

 

Kembali ke soal penanaman suatu ide. Awalnya saya kira film itu hanya kisah fiktif belaka, melekatkan suatu ide dengan masuk ke mimpi seseorang, hingga ke mimpi tingkat tiga. Tapi, hal ini membuat saya merenungkan suatu kata yang disebut dengan “ide”.

 

Ide bisa muncul kapan saja, baik itu yang biasa-biasa saja, konyol, luar biasa, hingga mengerikan. Proses keluarnya ide pun bermacam-macam dan kadang tanpa kita sadari, dan itu pun bervariasi di setiap orang. Ide bisa muncul saat kita sedang duduk santai di kursi malas kita, atau ketika sedang berbaring, atau ketika sedang jalan-jalan, atau ketika melihat sesuatu, atau kita sedang berpikir keras. Dan, ide bisa muncul begitu saja ke dalam kepala tanpa pentrigger khusus, kadang bersifat luar biasa, tapi dengan mudahnya kita lupakan. Karena itulah, imajinasi, atau ide yang sifatnya konstruktif atau positif, meskipun tampaknya konyol, ada baiknya kita catat di buku catatan khusus. Hal inilah yang dilakukan Bill Gates, seorang owner perusahaan komputer terbesar di dunia, Microsoft…

 

Kuatnya suatu ide atau pemikiran, akan menggerakkan seseorang berbuat sesuatu. Segala aktivitas kita, atau hal yang kita lakukan, itu bermula dari lintasan-lintasan ide atau pikiran di dalam otak kita, yang kemudian menggerakkan tangan kita, kaki kita, atau lidah kita. Pikiran jugalah yang menentukan nasib hidup seseorang. Apa-apa yang ada di dalam pikiran orang sukses dengan orang gagal pasti berbeda. Orang sukses memiliki pikiran-pikiran positif atau produktif, sehingga pikiran itulah yang akan mendorongnya melakukan hal positif atau produktif. Sebaliknya, orang gagal lebih banyak berpikir negatif, dan itulah yang mendorongnya untuk berbuat yang negatif.

 

Ada quote yang bagus: “Tindakan Anda bergantung dari pikiran Anda”. Dan, yang lebih hebat lagi adalah “Anda akan mendapatkan apa yang Anda pikirkan meskipun Anda tidak menginginkannya.” Inilah yang disebut dengan Law of Attraction. Pikiran kita akan meng-attract hal-hal di sekitar kita berdasarkan apa yang kita pikirkan. Kita akan mendapatkan hal-hal yang positif atau menyenangkan, bila apa yang dalam pikiran kita juga hal-hal yang positif atau menyenangkan. Ada banyak yang meragukan hukum ini, karena “saya sudah terus memikirkan hal-hal yang saya inginkan, tapi kenapa yang saya dapat justru hal-hal yang tidak saya inginkan?” Ada satu lagi tambahan di hukum ini, yaitu “Kita akan mendapatkan hal yang kita fokuskan.” Mungkin kita sering memikirkan hal-hal yang diinginkan, tapi justru kita lebih fokus terhadap hal yang tidak kita inginkan. Kita berusaha terus mengarahkan pikiran ke hal-hal yang positif, tapi lintasan-lintasan hal yang negatif begitu kuat, sehingga kita lebih fokus terhadap hal yang negatif itu, bukan hal yang positif.

 

Pementor saya pernah bilang, selintas hal negatif saja masuk ke dalam pikiran kita, hal itu akan terus-menerus terngiang-ngiang dalam kepala kita. Misalnya, secara selintas saja dengan tidak sengaja kita melihat hal yang bersifat pornografi. Hanya selintas, tapi pikiran itu terus menerus terulang dalam pikiran kita—sehebat apa pun antivirus yang kita miliki. Pikiran inilah yang kemudian melahirkan ide untuk kembali menikmati pornografi, atau bahkan merealisasikannya. Jadi, pikiran atau ide yang terlintas dalam pikiran kita adalah hal yang sangat penting dalam menentukan aksi-aksi yang kita lakukan.

 

Bagaimana agar kita senantiasa berpikir atau memunculkan ide-ide positif? Kita tentu sudah sering mendengar istilah Positive Thinking di buku-buku motivasi kesayangan kita. Misalnya, seringlah munculkan kata-kata positif di dalam pikiran, seperti “aku hebat” atau “hari ini hari yang luar biasa” atau “kuliah hari ini akan indah, seindah wajahku” atau “dengan ketampananku, akan melancarkan segala pekerjaanku” dan sebagainya. Contoh yang lain lagi, tentu akan berbeda kondisi seseorang yang ketika bangun tidur yang ada di pikirannya “kuliah lagi…kuliah lagi…” dengan orang yang meneriakkan “SEMANGAT PAGI!!” di dalam kepalanya. Atau, pikiran “Jatinangor lagi…Jatinangor lagi…” akan menghasilkan pribadi yang berbeda dengan pikiran “tunggu aku, Jatinangor, akan kujemput cita-citaku!!”

 

Hal termudah memunculkan positive feeling, selain memaksakan diri untuk berpikir positif, adalah membiasakan diri mendengar atau melihat hal-hal yang positif. Apa yang kita dengar secara terus-menerus biasanya akan memasuki alam bawah sadar, dan kita akan mengatakan ulang atau bahkan melakukan apa yang sering kita dengar tanpa sadar. Contohnya, bila kita nonton film terjemah bahasa inggris berkali-kali, dalam kehidupan sehari kadang secara refleks kita meniru kata-katanya ketika berbicara bahasa inggris. Kalo kita mendengar suatu lagu berkali-kali meskipun bukan lagu yang kita suka, misalnya lagu Keong Kepanasan, tanpa sadar pun kita akan menyenandungkannya. Yang lebih dahsyat lagi, dr. Hanny Rono Sulistyo dalam suatu seminar di Unsoed mengatakan, bila janin yang masih dalam kandungan sudah didengarkan cerita Nabi Yusuf, maka bertahun-tahun setelah lahir—meskipun selama itu ia tidak diceritakan lagi kisah itu—orang tersebut akan merasa deja vu atau tahu sendirinya kisa Nabi Yusuf tersebut.

 

Apa yang ktia dengar, apa yang kita lihat, bahkan apa yang ada di sekeliling kita, akan memengaruhi ide yang ada di dalam kepala kita. Karena itulah amat disarankan mencari pergaulan yang positif, karena itu akan membentuk pola pikir kita. Ada yang mengatakan “Kalau ingin tahu sifat seseorang, maka lihatlah sifat teman-temnnya.”

 

Namun, di buku Quantum Ikhlas karya Erbe Sentanu, ada kekuatan yang lebih dahsyat ketimbang positive thinking, yaitu positive feeling, perasaan atau kondisi hati yang positif. Secara tidak sadar, pikiran kita akan sangat dipengaruhi kondisi emosi kita. Bila kita mengeluhkan wajah yang kurang putih, kita menjadi kesal, dan itu akan memengaruhi pikiran kita. Kita akan menganggap orang-orang di sekitar tidak senang melihat wajah kita. Akhirnya, bila tanpa sengaja seseorang menabrak kita, yang keluar adalah kata-kata, “Kamu kalo ga suka liat muka saya yang biasa aja dong, ga usah pake nabrak-nabrak!”

 

Sebaliknya, bila kondisi hati kita tenang, tentram, bahagia, itu akan membuat pikiran kita juga tenang, yang ada di dalam kepala kita adalah hal-hal positif. Kita pun akan berjalan dengan mantap, tegap, tenang, semampai, gemulai, sehingga kalo ada orang melihat kita, dengan mantap kita akan berkata, “Oh, tidak, saya bukan artis, ga usah minta tanda tangan yak.”

 

Bagaimana agar memunculkan positive feeling? Pikiran bisa kita paksakan agar berpikir positif, namun memaksakan suasana hati bukanlah hal mudah,  karena hati kita tidak pernah berbohong. Di dalam Quantum Ikhlas, dipaparkan beberapa cara agar menumbuhkan positive feeling, hanya menurut saya, ada hal yang lebih praktis ketimbang cara yang dipaparkan buku itu.

 

Kapan suasana hati kita tenang? Mungkin kita jawab saat sedang libur panjang. Namun efeknya tidak lama, karena suasana tentram itu bisa segera hilang ketika berada di penghujung hari libur. Bahkan masih H-2, kita sudah mengeluh, “Ohh, tidak!! Liburan tinggal besok…gimana dong, gimana nih…” Kondisi umum yang membuat emosi kita tenang adalah ketika kita telah mengerjakan pekerjaan atau ujian dengan baik, ketika kita membuat atasan kerja senang, ketika kita telah melakukan hal luar biasa, ketika kita menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, ketika kita telah menolong orang lain hingga ia mengucapkan terima kasih, atau ketika kita membuat status FB lalu banyak yang nge-like. Kesimpulannya, hati kita tenang, bila kita telah melakukan hal-hal yang bermanfaat, positif, dan berguna.

 

Contoh yang lain. Akan berbeda suasana hati seseorang yang dalam sehari ia tilawah Quran dengan yang tidak, yang salat penuh 5 kali sehari dengan yang tidak, yang rajin puasa sunah dengan yang tidak, yang memulai hari dengan salat subuh berjamaah dengan yang tidak, yang bangun untuk salat malam dengan yang tidak.

 

Yap…seseorang akan memiliki hati yang tenang atau positive feeling bila ia mengingat Allah dan melaksanakan apa yang Ia perintah atau sunahkan, sedangkan seseorang akan berhati gelisah atau negative feeling bila ia berbuat dosa. Hati, atau nurani kita, bersifat fitrah, berdasarkan fitrah Allah atau sunatullah, dan hati kita tidak pernah berbohong. Mungkin secara logika, kita bisa membenarkan tindakan kita, namun hati kita tetap akan resah, bila itu adalah perbuatan yang tidak diridoi oleh Penciptanya.

 

Bila kita telah memutuskan sesuatu atau melakukan sesuatu, mari kita lihat kondisi hati kita, apakah ia tenang, atau ia gelisah? Lalu, ketika tidur, apakah tidur kita nyenyak, atau dihantui perasaan bersalah? Seorang koruptor bisa saja hidup enak dengan uangnya, namun tidurnya tidak akan nyenyak karena hatinya terus meneriakkan rasa bersalah.

 

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar Ra’d: 28)

 

Hati yang tenang, tentram, positif, akan menghasilkan pikiran atau ide yang positif. Inilah yang disebut dengan self inception, atau penanaman ide ke diri sendiri. Agar ide itu begitu kuat dan dilanjutkan dengan tindakan, maka harus dimulai dari hati. Kita tidak akan kesulitan menghadirkan ide-ide positif, bila hati kita sudah positif.

 

Lalu, bagaiman menanamkan ide ke orang lain? Ya, caranya sama, agar ide yang kita tanamkan begitu kuat, maka sentuhlah hatinya. Di film Inception sendiri, agar ide tertanam kuat di dalam kepala Fischer Jr, Cobb memanfaatkan momen ayahnya yang meninggal, peristiwa yang amat menyayat hati Fischer Jr. Bila hati tergerak, maka itu adalah momen yang paling tepat menanamkan ide. Orang bilang, orang yang paling mudah kita pengaruhi atau kita tanamkan ide adalah orang yang memiliki ikatan emosional dengan kita, yahh, katakanlah orang yang mencintai kita. Seburuk dan sejahat apa pun suatu ide, selama itu diucapkan oleh orang yang dia cintai, maka itu bagaikan suara seruling malaikat.

 

Begitu juga bila kita ingin memberikan pikiran positif atau mengajak kepada kebaikan, cara yang paling jitu adalah dengan memulai dari hatinya dulu. Inilah yang memunculkan istilah da’wah dengan hati.

 

Jadi, bila kita ingin setiap tindakan, kebiasaan, karakter, atau pribadi yang positif, lakukanlah self inception. Mulai dari hati. Hati kita tidak pernah bohong, mana yang baik dan mana yang buruk. Hati yang positif akan menghasilkan pikiran yang positif. Pikiran yang bahagia dan positif, akan memengaruhi tindakan kita. Lebih jauh, tindakan akan memengaruhi kebiasaan, karakter, hingga nasib.

 

Orang yang berhati tenang akan tenang hidupnya, akan tenang matinya, dan akan tenang kehidupan akhiratnya, insyaAllah.

 

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku. (Al Fajr: 27-30)

 

dibuat Senin 20 September 2010, setelah selesai membaca buku “Quantum Ikhlas” dan menikmati film “Inception”

Advertisements
Categories: gagasan | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Meng-insepsi-kan diri

  1. panjang bgt

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: