Mendaki Gunung, Mendaki Hidup

“Kenapa sih harus naik gunung kam?”

“Ngapain bikin hidup susah? Mau makan susah, mau ke wc susah…”

“Kayak ga ada kota aja.”

 

Itu adalah komentar-komentar yang pernah disambut oleh telinga saya ketika saya bilang ingin naik gunung. Yah, mengenai satu hal ini, tentu tiap orang punya kecenderungan yang berbeda-beda. Dan, seperti komentar di atas, tidak semua orang bisa beradaptasi dengan kehidupan di alam terbuka—mulai dari makanannya yang tidak higienis, tidur beralaskan rumput/matras dan beratapkan tenda yang sempit, dan juga wc alam. Selain itu, ada juga yang memang tidak terbiasa memiliki stamina tubuh yang tinggi untuk mendaki gunung.

 

Saya tidak ingin membahas tentang tips dan trik mendaki gunung, karena saya bukanlah ahlinya. Saya hanyalah seorang amatir yang senang melihat alam murni ciptaan Allah secara langsung dan lebih dekat. Lihat segalanya lebih dekat, dan kau akan mengerti (jadi ingat lagunya sherina^^). Namun, saya hanya ingin sedikit berbagi hikmah yang didapat dari mendaki gunung, walau gunung yang saya daki baru beberapa saja, dan itu pun tidak tinggi-tinggi amat. HIkmah yang benar-benar saya ambil adalah bahwa mendaki gunung itu layaknya “mendaki kehidupan”.

 

Bermula dari kaki gunung. Di sana kita hanya bisa melihat ke atas. Ke atas…melihat puncak gunung sambil takjub dan bertanya kepada diri sendiri, “Wuihh, tinggi banget! Bisa nyampe puncak ga ya…”

 

Bermodalkan ransel yang amat membebani bahu dan membuat jalan sedikit tidak stabil, kita mulai memasuki gerbang gunung dengan memercikkan api semangat. Apalagi pepohonan dan nuansa asri serba hijau telah menjadi sumber energy tambahan. Kemudian, kita pun berjalan, naik, naik, terus naik…Waktu pun berjalan amat lambat. Kita melihat arloji kita, lalu melihat ke atas yang tak berujung.

 

Satu jam lewat, dua jam lewat…lalu kita pun duduk, istirahat sejenak. Meminum air dan perbekalan yang kita bawa. Di sana kita mengistirahatkan otot-otot yang kelelahan. Namun, tidak boleh lama-lama. Sangat berbahaya terlena dalam istirahat di tengah gunung, karena matahari akan sangat cepat menghilang bila kita bermanja diri dengan istirahat.

 

Lalu perjalanan pun dilanjutkan. Satu langkah, dua langkah, naik, naik, dan terus naik. Sekian jam lagi pun berlalu…

 

“Eh, kita istirahat dulu yuk sebentar.”

“Tanggung, ayo lanjut aja. Semakin cepat naik, semakin banyak waktu istirahat kita di puncak.”

“Hah, hah, hah…tunggu…Aduh, bentar ya, kaki saya sedikit kram.”

“Berapa lama lagi kita nyampe puncak?”

“Sekian jam lagi. Semoga kita bisa nyampe puncak sebelum gelap. Nih, minum.”

“Ya udah, sambil nungguin yang kram, kita ngopdul (ngopi dulu).”

 

Mengenang beberapa jam yang lalu, kita sendiri pun heran ke mana semangat yang begitu membara di kaki gunung tadi? Kaki mulai pegal-pegal, belum lagi bahu yang tersiksa oleh ransel 65 L. Aaahh!! Rasanya ingin dibuang aja ini ransel. Duhh, pingin kencing lagi. Keluarin tissue…

 

Matahari berada di puncak. Saatnya berhenti dan mengeluarkan peralatan makan. Beras pun direbus dengan api paraffin. Berikut lauk-lauk praktis. Dendeng, ikan asin, mi, baso ikan, kornet, dan tak pernah lupa: kopi. Sendok dikeluarkan, dilap—kadang pake baju—dan pesta pun dimulai, dengan satu wadah makan untuk 3-4 orang. Sejenak, makanan yang terasa seperti makanan terlezat seplanet bumi itu pun membius rasa sakit dan lelah…

 

“Ayo brader, terus jalan. Jangan berhenti. Kalo berhenti justru malah bikin capek.”

“Hah, hah, hah, hah, hah. Bentar, bentar, udah mau gila nih. Istirahat dulu bentar aja.”

“Jangan kebanyakan istirahat. Kalo mau juga ga usah duduk, nyandar aja di pohon. Masih ada minum ga? Nih yang punya saya.”

“Heh, heh, heh, heh…thank you brader…”

 

Pohon, rerumputan, bunga, dan hamparan hijau yang amat langka di tengah kota, sebenarnya begitu indah bila diresapi dan dihayati maknanya. Namun, tetesan keringat dan penumpukan asam laktat seakan menjadi penguasa di tengah alam yang luas itu.

 

Matahari mulai turun, ia sembunyi perlahan-lahan seakan malu. Padahal tadi ia tertawa keras melihat kita yang kelelahan. Dan, malam pun tiba. Fungsi matahari pun diganti oleh senter. Wahh, ada tanah luas, cocok untuk istirahat…

 

“Berapa jauh lagi puncak?”

“Seharusnya sebentar lagi. Hah, hah. Senternya nyala semua kan?”

“Bagaimana kalau kita dirikan tenda di sini?” usul seseorang. “Ini sudah terlalu malam dan kita sudah lelah. Kita bisa makan malam dulu disini, beristirahat, besok pagi kita lanjutkan perjalanan ke puncak.”

 

Suasana pun menjadi hening. Usul tersebut benar-benar ide bagus dalam kondisi saat itu. Badan lelah. Perut lapar. Pakaian dan sepatu basah oleh keringat dan aliran air yang dilewati di tengah perjalanan. Suhu dingin pun menusuk tanpa belas kasihan. Alasan untuk berhenti sudah kuat dan lengkap.

 

“Kalau begitu, kita hanyalah camper, bukan climber.”

 

Mata mulai berkunang-kunang. Bahu mendesak untuk segera membuang ransel penyiksa. Kaki bergerak tanpa keinginan. Tidak mengerti, tidak mengerti kenapa berada di sini. Tidak peduli, yang penting terus melangkah, melangkah, dan melangkah……lalu langkah pun kian melambat.

 

“Kawan, kita sudah di puncak!!”

 

Kata-kata itu bagai hipnotis. Gairah yang tadi tertidur sejak pagi hari pun terbangun. Dan, semua tiba-tiba saja rasa lelah itu hilang, hilang tanpa bekas……bagaikan hilangnya rasa kantuk begitu keluar dari ruang kuliah.

 

Ketika matahari terbit, kita pun mengerti makna alam. Arti dari keseimbangan yang telah Allah ciptakan. Kenapa begitu sempurna dan tak ada satu pun yang bisa menirunya. Aaaaahhhhh…….ya Allah, begitu indahnya alam yang Kau ciptakan. Maha Suci dan Maha Besar Engkau, dan maha kecilnya aku di puncak gunung ini melihat alam yang membentang tanpa batas…

 

Sebelum turun gunung untuk kembali pulang, senjata rahasia yang paling wajib dibawa pun dikeluarkan: kamera. Seakan sudah lupa bahwa dahulu kita ingin menyerah dan berhenti di tengah-tengah…Dahulu? Kapan itu? Ahh, sudahlah.

 

Begitu juga dengan hidup kita bukan? Semakin hari, tantangan yang kita hadapi semakin sulit. Setiap hari kita semakin menanjak dan menanjak, tidak berjalan datar apalagi turun…karena roda dunia berputar begitu cepat sehingga menuntut kita untuk terus mendaki dan mendaki.

 

Namun, di tengah lelah dan kelemahan kita, ada teman-teman kita yang mendorong. Ia mau menunggu kita bila kita ingin berhenti sejenak, meluruskan otot-otot yang kram, bahkan membagi minumannya ketika yang punya kita habis…

 

Pasti ada masa di mana kita ingin berhenti di tengah-tengah—tepat sebelum puncak—dengan alasan sudah terlalu lelah dan sebagainya, dan mengatakan akan melanjutkan perjalanan esok paginya. Namun kawan, ternyata bukan tubuhmu yang memintamu untuk isitrahat, karena sesungguhnya mereka masih kuat. Mental lemah dan bisikan setan lah yang tak pernah lelah menggodamu…

 

Percayalah kawan, bila kita terus mendaki dan mendaki hidup ini tanpa mengeluh dan kata menyerah, akhirnya akan menjadi indah, seindah alam yang telah Allah ciptakan. Tentu kita pernah merasakan asamnya kerja keras, namun semua itu berubah menjadi manis begitu kita memperoleh hasil dari kesungguhan kita.

 

Jika kita mengalami masa-masa sulit seakan kita mau menghadap maut (UAS misalnya), percayalah pada Allah yang tak pernah memberi beban melebihi kemampuan manusia, selayaknya Ia tak pernah menciptakan gunung tinggi yang tak dapat didaki oleh manusia. Percaya jugalah akan temanmu yang akan selalu mau membantu bila ingin berhenti sejenak. Dan, percayalah pada tubuhmu sendiri—dirimu sendiri—karena ia masih kuat untuk terus maju. Begitu kuatnya hingga kau pun heran sendiri ketika berada di puncak.

Percaya pada Tuhan, percaya pada teman, percaya pada diri sendiri…

 

Hanya yang tabah sampai akhir yang mencapai puncak


*dengan beberapa kalimat yang saya kopas dari Tanri dalam notenya “Belajar Cinta di Lembah Kasih”

 

-Sabtu 22 Januari 2011, mencoba belajar untuk UAS tapi malah bikin blog

Advertisements
Categories: merenung | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: