Cinta Abadi di Lembah Kasih

Andai kehendak Illah begitu mudah untuk diketahui
siapa sangka keringat ini akan membasahi cinta yang kami rasakan
namun aku tak pernah berpikir apa yang akan kami temui kelak
yang ada hanyalah langkah-langkah kaki yang begitu berat untuk diangkat
dan mata-mata yang ingin sekali mengatakan bahwa dirinya telah putus asa
apakah puncak itu ada?
adakah cinta abadi tumbuh?
di sini bukanlah tempat bagi hati yang lemah
karena yang lemah hanya akan menyusahkan
di sini juga bukanlah tempat orang-orang yang putus asa
karena yang hadir di sini bukanlah jiwa-jiwa yang cengeng

warna coklat, warna tanah…
warna hijau, warna daun…
seakan-akan mereka hanyalah angin tak bersuara belaka
tak kami kenal, tak kami ingin tahu
karena kami hanya ingin maju, maju, dan terus maju
sebelum jiwa ini berhenti untuk mengharapkan kasih

cinta Illahi, yang ingin kami rasakan dalam keringat kami, dalam air mata kami
yang kami rindukan selama ini
hingga akhirnya bumi ini seutuhnya menantikan cinta ini,
cinta yang ditaburkan oleh keindahan bunga edelweiss dan negeri awan di puncak pangrango

9 orang dalam 9 jam di tengah-tangah kabut yang turun
aku tidak menyesalinya, tidak akan pernah
karena aku telah mempelajari cinta di lembah kasih
lembah Mandala Wangi

 

-tulisan ini dibuat hari Senin 13 Juli 2009 setelah turun gunung Pangrango

Advertisements
Categories: merenung | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: