Aktif Mewarnai

Ada yang pernah mendengar kalimat itu? Mungkin beberapa di antara kita sudah sangat familiar dengan kalimat itu, terutama pengurs DKM Asy-Syifaa’ 2010…yap, itu adalah bagian dari visi DKM Asy-Syifaa’ 2010. Visi lengkapnya adalah “Menjadikan DKM Asy-Syifaa’ Sebagai Keluarga yang Terbina, Mandiri, dan Aktif Mewarnai FK Unpad dalam Kesinergisan”

Ada 5 poin penting dar visi itu, yaitu KELUARGA, TERBINA, MANDIRI, AKTIF MEWARNAI, SINERGIS. Nah, saya sedikit ingin berbagi pandangan mengenai makna AKTIF MEWARNAI.

Sebenarnya, kita membawa warna apa dalam FK Unpad ini? Dan juga kenapa kita mesti memberi warna tersendiri?

Warna yang ingin kita siramkan adalah warna nilai-nilai Islami. Meskipun mayoritas mahasiswa FK Unpad adalah muslim, tapi mungkin tidak semuanya dalam kehidupan kesehariannya, terutama di lingkungan kampus FK, terhiasi dengan nilai-nilai Islami.

Nilai-nilai Islami yang dimaksud di sini adalah hal-hal simple dan dasar, seperti mengajak salat saat waktu salat datang, mengajak mereka untuk salat tepat waktu dan berjamaah, menyebarkan salam, senyum, dan nilai-nilai Islami lainnya. Dan, FK Unpad adalah lingkugan potensial yang tidak boleh disia-siakan.

Kalau kita lihat, dinamika kemahasiswaan FK Unpad sangat beragam. Bisa dibilang, dari pandangan saya pribadi, cita-cita senat untuk membuat 100% mahasiswa FK Unpad menjadi mahasiswa yang aktif mulai menunjukkan hasilnya. Partisipasi mahasiswa FK Unpad untuk mengikuti aktivitas kemahasiswaan sangat tinggi, dan mungkin tidak salah kalau saya menyebut angkanya hampir mencapai 100%. Ada yang aktif di senat itu sendiri, ada yang aktif di UKM fakultas—yang kalau kita lihat dalam skala fakultas, sangat banyak dan beragam—ada yang di BEM, BPM, dll. Mungkin partisipasi tertinggi adalah di UKM fakultas, yang banyak macamnya sehingga mungkin hampir mewakili semua minat mahasiswa FK. Adanya variasi wadah aktualisasi diri, sekaligus kultur FK Unpad sendiri yang menganggap “mahasiswa aktivis” memiliki kedudukan yang, istilahnya, berprestise, membuat aktivitas kemahasiswaan menjadi dinamis dan padat.

Tingginya angka aktivitas mahasiswa, sesungguhnya, adalah peluang terbesar untuk menjadikannya sebagai pintu masuk nilai-nilai Islami. Mahasiswa yang rela mengorbankan waktunya untuk berkegiatan bahkan ikut berpikir dalam kemahasiswaan, cenderung memiliki semangat pembelajaran yang tinggi. Hal-hal apa pun yang dianggap sebagai nilai yang dapat mengembangkan potensinya akan diserap dalam-dalam. Suatu kondisi “pembelajaran tinggi” inilah yang seharusnya dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk “diwarnai” dengan nilai-nilai Islami. Mereka para aktivis, yang cenderung berpikir kritis, akan mudah menerima berbagai inspirasi, dan kita harus meyakinkan mereka bahwa Islam adalah inspirasi terbaik dalam hidup ini. Ya, inspirasi terbaik, bahkan bukan hanya di masa mahasiswa, tapi di sepanjang waktu hingga masa hidup seorang manusia berakhir.

Lalu, bagaimana kita, kader-kader Asy-Syifaa’ (yang saya tekankan di sini adalah KADER bukan pengurus, karena pengertian kader dan pengurus beda. Kader adalah mereka yang mengikuti pembinaan dan kaderisasi Asy-Syifaa’, sedangkan pengurus adalah yang daftar dan ikut wawancara kepengurusan) dapat mewarnai para mahasiswa yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing? Sekali lagi saya tekankan, nilai-nilai Islami di sini adalah hal-hal dasar dan simple, bukan hal-hal khusus seperti ta’lim, pengajian, ceramah, tahsin quran, dll.

Contoh mudah hal yang bisa kita warnai adalah musyawarah mahasiswa baru-baru ini. Bagaimana kita bisa mewarnai musma dengan nilai-nilai Islami, padahal kan itu bukan majelis taklim, bukan forum mentoring, dan tidak semuanya muslim?? Oh, banyak sekali yang bisa kita warnai. Saudari kita, Tazkia, pernah membuat note tentang musma yang tidak menghiraukan waktu magrib, padahal, salat magrib adalah ibadah wajib yang primer dan kita semua tahu itu. Nah, sudah menjadi peran dan tanggung jawab kita, kader Asy-Syifaa’ yang hadir di musma itu, mengingatkan forum tersebut untuk break salat magrib. Sebagai peserta musma, kita bisa angkat tangan dan memberi masukan untuk menghentikan musma sementara waktu. Karena itu adalah musyawarah mahasiswa, semua pendapat mahasiswa yang hadir seharusnya didengar dan dilaksanakan bila forum menyepakatinya. Lebih ampuh lagi pewarnaannya kalau kita adalah pimpinan musyawarah itu, yang memiliki suara yang menjadi pusat perhatian forum. Pemimpin forum akan sangat mudah memberi masukan untuk mem-break musma sementara untuk salat.

Khusus tentang pimpinan forum, lebih banyak lagi hal yang bisa kita lakukan kalau kita memegang amanah tersebut. Misalnya, kita memimpin suatu rapat senat atau UKM nonDKM atau kepanitiaan, kita dapat dengan mudah meminta peserta rapat laki-laki untuk duduk di sebelah kanan dan peserta rapat perempuan duduk di sebelah kiri. Tanpa kita jelaskan kalau itu bertujuan mencegah ikhtilat (bercampur baur ikhwan-akhwat), mungkin sebagian besar dari mereka akan “iya iya aja”.

Kalau kita memimpin rapat yang lebih besar lagi (nonDKM), kita bisa meminta peserta untuk tilawah sebelum mulai rapat atau memulai rapat dengan basmalah. Dan, saya tidak pernah menemukan ada peserta nonis yang protes karena adanya tilawah quran.

Tapi, hal-hal strategis itu mungkin hanya bisa kita lakukan kalau kita memegang posisi strategis. Ya, benar, karena sekali lagi “kita” yang dimaksud adalah KADER ASY-SYIFAA’ bukan pengurus. Kader Asy-Syifaa’ tidak harus menjadi pengurus, yang penting ia mengikuti pembinaan kaderisasi Asy-Syifaa’. Bahkan, kondisi dakwah kampus yang ideal adalah kader-kader lembaga dakwah bisa menyebar di berbagai posisi strategis di kampus, misalnya di BEM, BPM, senat, UKM-UKM yang massanya banyak, dll. Namun, tidak memegang posisi strategis dan hanya menjadi staf juga bisa menjadi langkah pewarnaan yang progresif kalau kita tidak hanya terpaku berdakwah di dalam masjid saja.

Atau, kita tidak perlu berada dalam organisasi, kepanitiaan, atau acara formal untuk mewarnai FK Unpad. Ketika ngobrol, diskusi, belajar bareng, bahkan maen, seharusnya bisa menjadi momen-momen berharga untuk mewarnai dengan nilai-nilai Islami. Artinya, seorang kader dakwah, dalam cerita kita kader Asy-Syifaa’, tidak boleh eksklusif dan mestinya bisa bergaul dengan berbagai kalangan. Karena, kalau hanya bergaul dengan sesama kader saja dan menghindari yang bukan kader, yaah, jadi dia mewarnai siapa?

Intinya, aktif mewarnai tidak harus berupa kegiatan-kegiatan formal seperti mengadakan taklim, ceramah, mentoring, belajar baca quran, dll. Tapi, dalam aktivitas kepanitiaan, organisasi lain, belajar bareng, bahkan ketika maen, kita aktif memberi warna-warna Islam, dengan salam, mengucapkan perkataan yang baik, mengingatkan untuk salat, atau bisa lebih progresif lagi kalau kita memegang posisi strategis di sebuah forum/kepanitiaan/organisasi.

Di zaman ini, kader-kader Asy-Syifaa’ seharusnya tidak lagi dikenal sekedar sebagai “orang-orang masjid” tapi sebagai muslim yang berbaur dan aktif dalam berbagai kegiatan sebagai “pemberi warna”. Warna terang yang cahayanya takkan padam meskipun orang-orang kafir benci.

 

tulisan ini dibuat Senin 15 Maret 2010, di awal-awal kepengurusan DKM Asy-Syifaa’ FK Unpad 2010

Advertisements
Categories: gajelas | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: