Monthly Archives: January 2011

Memilih Karir untuk Kesuksesan Pribadi, juga Negeri

Hari Rabu, 26 januari 2011 sektiar pukul 10.30, di Asrama Pajajaran 2, di suatu kamar lantai 2, terjadi ‘diskusi hangat’.

 

“What social justice issue emerge in vaccine production by a multinational pharmaceutical company based on microbe from developing countries?”

“Itu jawabnya E: location of the vaccine production.”

“Hah? Kenapa?”

“Ini tentang kasus Namru. Maneh inget ga?”

“Namru?”

“Iya. Laboratorium penelitian medis amerika yang ada di Indonesia. Waktu itu pernah ada peneliti Indonesia yang membawa virus flu burung Indonesia ke Amerika. Terus dibuat vaksin oleh Amerika, dijual deh ke Indonesia dengan harga mahal.”

“Oohh, jadi kenapa penelitiannya engga di Indonesia aja ya?”

“Iya. Tapi ceuk aing mah ga apa-apa da. Kan itu hak peneliti untuk mengirim virusnya ke luar negeri.”

“Yahh, tapi itu kan merugikan negeri sendiri. Vaksin yang dibuat dan dijual Amerika pasti mahal. Padahal itu virusnya berasal dari negeri kita sendiri. Kenapa mesti bayar mahal. Merugikan negara namanya…”

 

Masih tersimpan dalam memori kita, bukan, mengenai kasus wabah flu burung? Dalam buku karangannya sendiri, ‘Saatnya Dunia Berubah’, dikisahkan perjuangan Menteri Kesehatan kabinet Indonesia Bersatu I—Siti Fadilah Supari—menentang pengiriman virus H5N1 Indonesia ke WHO. Hal ini dikarenakan beliau tahu, bahwa virus itu akan dikirim ke perusahaan farmasi AS, yang kemudian akan mengolah virus itu menjadi vaksin. Kemudian, vaksin itu akan dijual dengan harga mahal ke negara-negara yang sedang wabah flu burung—yaitu negara yang mengirim mikroba mereka sendiri. Beliau pun berpikir, mengapa negara yang memiliki hak paten terhadap virus penyebab penyakit, tidak mendapat apa-apa—malah mesti membayar mahal. Sebaliknya, negara AS mendapatkan untung besar.

 

Dalam buku ‘harian’ beliau tersebut, diceritakan bagaimana perjuangan habis-habisan beliau menentang kebijakan WHO yang merugikan Indonesia. Jika ingin mengetahui lebih lanjut, silakan membeli buku tersebut di toko buku kesayangan Anda^^

 

Sedikit tambahan. Dalam suatu seminar yang diadakan oleh FKDF mengenai flu babi, dr. Titi sebagai narasumber juga mengisahkan bagaimana Menkes tersebut menolak untuk membeli vaksin flu babi yang dijual AS. Beliau yakin, kasus flu babi bukanlah wabah pandemik, melainkan hanya dibesar-besarkan oleh media.

……

 

Hari yang sama, pukul 12.13, Dani Ferdian menghampiri dan berkata, “Kam, saya minta tolong ya. Ini tolong isi kuesioner.”

“Kalo saya ngisi bakal dapat apa, Dan?”

“Dapat pahala (insyaAllah).”

 

Lalu saya pun mengisi kuesioner seputar rencana responden setelah lulus menjadi dokter nanti.

 

Rencana setelah lulus menjadi dokter nanti. Yahh, apa rencana saya? Saya mau ke mana? Akan menjadi dokter seperti apa saya nanti? Saya pribadi memperkirakan, mayoritas responden (yaitu mahasiswa FK Unpad) akan memilih untuk mengambil spesialis.

 

Sebenarnya banyak sekali pilihan profesi setelah seseorang lulus menjadi dokter. Bahkan, banyak juga dokter yang tidak menjadi klinisi. Saya secara pribadi memilih berkeinginan menjadi birokrat (eksekutif), yang akan bekerja di Dinas atau Departemen Kesehatan.

 

Mungkin ini pertanyaan yang membosankan, tapi ada baiknya kita renungkan lagi. Setelah lulus nanti, saya ingin bekerja sebagai apa? Ingin menjadi orang yang bagaimana? Punya kesibukan apa? Pilihannya sangatlah banyak.

 

Di antara pilihan-pilihan itu, tiap orang tentu memiliki keinginan yang sama, yaitu ‘kesuksesan karir pribadi’. Ambil contoh alumni-alumni di suatu institut negeri. Saya tidak mengambil data ilmiahnya, tapi dari apa yang didengar, kebanyakan lulusannya memiliki keinginan untuk bekerja di perusahaan asing. Perusahaan minyak asing atau semacamnya, yang akan mengirim pekerjanya ke timur tengah, atau Eropa, dengan gaji USD 4000 per bulan. Tidak hanya sebatas menjadi pekerja, mimpi untuk menduduki posisi penting di perusahaan asing itu pun berusaha untuk diwujudkan.

 

Yah, walaupun beberapa perusahaan asing itu adalah company yang menyedot sumber daya alam Indonesia, yang—saya dengar—kebanyakan keuntungannya untuk negara mereka sendiri.

 

Selain itu, siapa yang tidak berkeinginan untuk bekerja dan tinggal di luar negeri? Di Eropa atau Amerika, atau Uni Emirat Arab, yang negaranya begitu maju dan tata kotanya indah. Bersih, udaranya sejuk, fasilitas jauh lebih maju dibanding Indonesia.

 

Itu semua tidaklah salah. Bahkan pencapaian yang luar biasa. Siapa pun berhak memiliki impian yang tinggi tentang jenjang karir dan kehidupannya. Tiap manusia tentu ingin hidup sukses, kebutuhan terpenuhi, memiliki keluarga bahagia yang amat terfasilitasi, kemudian anaknya juga mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dari orang tuanya.

 

Selamat berusaha menggapai mimpi dan cita-cita. Tapi, ketika berada di kesuksesan tersebut, cobalah merenung, tidakkah kita berkeinginan memberikan manfaat untuk negeri ini, meskipun sedikit?

 

Kita orang-orang luar biasa karena ingin sukses (hanya orang-orang menyedihkanlah yang tidak ingin sukses) dan berusaha mewujudkannya dengan cara yang halal. Dan, kita juga menginginkan negeri ini sukses—seperti kita—bukan?

 

Sebaliknya, untuk mengabdi kepada negeri, tidak perlu melupakan cita-cita kesuksesan pribadi. Sejarah menceritakan, kebanyakan orang-orang yang mengubah dunia adalah mereka yang sukses secara pribadi.

 

Intinya, apa pun pekerjaan nanti, cobalah memberikan manfaat untuk negeri ini. Dan, ketika mempertimbangkan karir, pilihlah yang tidak akan merugikan negara. Menjadi sukses banyak jalannya, tidak harus merugikan negeri. Bahkan kesuksesan pribadi dapat dicapai dengan menyukseskan negeri.

 

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain” (Al Hadits)

 

26 Januari 2011, pukul 18:57

@rumah setelah salat magrib

-pukul 12.15: mahasiswa FK Unpad angkatan 2008 bersorak gembira setelah diumumkan bahwa tidak ada ujian esok

-pukul 14.52: jari kaki memar gara-gara terpelesat saat main tenis meja di bale 4


*Pertanyaan menarik: siapakah peneliti Indonesia yang membawa virus H5N1 Indonesia—meskipun telah dilarang oleh Depkes—ke WHO?

Categories: gajelas | Leave a comment

Let It Be

When I find my self in times of trouble

mother mary comes to me,

speaking word of wisdom:

Let It be


Itu adalah sepotong lirik lagu The Beatles yang berjudul “Let It Be”. Tentu kita tahu bukan, atau setidaknya pernah mendengar, group musik atau band yang bernama “The Beatles”

 

Awal mula muncul pada tahun 1963, ketika mereka banyak dikenal oleh penduduk Liverpool beramin di Cavern Club. Seiring waktu berjalan, nama mereka pun populer seantero Inggris, bahkan menembus Amerika hingga dunia.

 

Beatles bubar tahun 1970, dengan album mereka yang terakhir bernama “Let It Be”. Di album itu, lagu unggulan mereka berjudul sama dengan nama album mereka, Let It Be.

 

Lagu ini dibuat oleh (Sir) Paul Mc Cartney, meskipun di albumnya tertulis oleh Lennon-Mc Cartney. Ia membuatnya pada bulan Januari 1969, ketika The Beatles berada di ambang kehancuran.

 

Yap, band besar dan legendaris itu pada 1969-1970 sedang mengalami kondisi konflik internal yang parah. Dipercaya, awal mula kehancuran mereka berawal dari meninggalnya manajer yang menyatukan mereka, yaitu Brian Epstein. Lalu, disusul oleh ego masing-masing personel band—John Lennon, Paul Mc Cartney, George Harrison, dan Ringo Starr. Paul yang mulai merintis rekaman sendiri, begitu juga George Harison. John Lennon dengan sifat otoriternya ingin membubarkan band, dan Ringo Starr yang terobsesi menjadi pemain film. Kondisi diperparah dengan kehadiran Yoko Ono—wanita gipsi asal Jepang, istri kedua John Lennon setelah cerai dengan istri pertamanya, Cynthia Lennon—yang membuat resah anggota band lainnya, karena saat itu wanita gipsi dipandang sebelah mata.

 

Di tengah-tengah kondisi panas itu, saat ketegangan tak kunjung reda, Mc Cartney pun menciptakan lagu ini, Let It Be. Paul terinspirasi setelah ia memimpikan ibunya, Mary, yang telah meninggal. Ia bermaksud untuk membawa pesan damai kepada yang lain. Yah, segalanya akan baik-baik saja. Jika pada akhirnya The Beatles bubar dan perbedaan di antara mereka tak dapat disatukan, let it be—biarlah itu terjadi.

 

Secara pribadi, saya sangat menyukai lagu ini. Selain iringan melodi dan harmoni yang begitu mendalam, pesan lagunya pun amat menyentuh.

 

When I find my self in times of trouble

mother mary comes to me,

speaking word of wisdom:

Let It be

And in my hours darkness

she is standing right in front of me,

speaking word of wisdom:

Let It Be

*)Let it be, let it be, let it be, let it be

Whisper word of wisdom: Let It be

And when the broken hearted people

living in the world agree,

there will be answer

Let It Be

but though they may be parted

there is still a chance that they will see

there will be answer

Let It Be

*) Let it be, let it be, let it be, let it be

for there will be answer: Let It be

Let it be, let it be, let it be, let it be

Whisper word of wisdom: Le It Be

And when the night is cloudy

there is still a light that shines on me,

shine until tomorrow

Let It Be

I wake up to the sound of music

mother Mary comes to me,

speaking word of wisdom:

Let It Be

*) Let it be, let it be, let it be, let it be

for there will be answer: Let It be

Let it be, let it be, let it be, let it be

Whisper word of wisdom: Le It Be

Bagian yang dibold adalah yang paling saya sering dengar berulang-ulang. Karena, meskipun kata orang hidup itu indah, tidak selamanya kita bahagia. Pasti ada masa-masa sedih, sempit, dan gelap. Bagaikan malam yang tak berbintang karena tertutup awan.

 

Tapi kita sedih pun tidak selamanya. Selama masih hidup, berarti selalu ada jalan keluar atas segala kekelaman dan keputusasaan hidup kita. Karena, jika tidak, tentu kita tidak akan bertahan hidup hingga sekarang. Itu lah mengapa setelah kesulitan ada kemudahan. Sesudah kegelapan ada cahaya.

 

And when the night is cloudy, there is still a light that shines on me. Shine until tomorrow, Let It Be…

 

Biarlah itu terjadi. Let It Be…

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Al Insyira: 5-6)

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…” (Al Baqarah: 286)

 

Selasa, 25 Januari 2011 pukul 14:48

@kostan Averous

sambil menghayati lagu Let It be pasca ujian “menembak” Public Health

Categories: merenung | Leave a comment

Mendaki Gunung, Mendaki Hidup

“Kenapa sih harus naik gunung kam?”

“Ngapain bikin hidup susah? Mau makan susah, mau ke wc susah…”

“Kayak ga ada kota aja.”

 

Itu adalah komentar-komentar yang pernah disambut oleh telinga saya ketika saya bilang ingin naik gunung. Yah, mengenai satu hal ini, tentu tiap orang punya kecenderungan yang berbeda-beda. Dan, seperti komentar di atas, tidak semua orang bisa beradaptasi dengan kehidupan di alam terbuka—mulai dari makanannya yang tidak higienis, tidur beralaskan rumput/matras dan beratapkan tenda yang sempit, dan juga wc alam. Selain itu, ada juga yang memang tidak terbiasa memiliki stamina tubuh yang tinggi untuk mendaki gunung.

 

Saya tidak ingin membahas tentang tips dan trik mendaki gunung, karena saya bukanlah ahlinya. Saya hanyalah seorang amatir yang senang melihat alam murni ciptaan Allah secara langsung dan lebih dekat. Lihat segalanya lebih dekat, dan kau akan mengerti (jadi ingat lagunya sherina^^). Namun, saya hanya ingin sedikit berbagi hikmah yang didapat dari mendaki gunung, walau gunung yang saya daki baru beberapa saja, dan itu pun tidak tinggi-tinggi amat. HIkmah yang benar-benar saya ambil adalah bahwa mendaki gunung itu layaknya “mendaki kehidupan”.

 

Bermula dari kaki gunung. Di sana kita hanya bisa melihat ke atas. Ke atas…melihat puncak gunung sambil takjub dan bertanya kepada diri sendiri, “Wuihh, tinggi banget! Bisa nyampe puncak ga ya…”

 

Bermodalkan ransel yang amat membebani bahu dan membuat jalan sedikit tidak stabil, kita mulai memasuki gerbang gunung dengan memercikkan api semangat. Apalagi pepohonan dan nuansa asri serba hijau telah menjadi sumber energy tambahan. Kemudian, kita pun berjalan, naik, naik, terus naik…Waktu pun berjalan amat lambat. Kita melihat arloji kita, lalu melihat ke atas yang tak berujung.

 

Satu jam lewat, dua jam lewat…lalu kita pun duduk, istirahat sejenak. Meminum air dan perbekalan yang kita bawa. Di sana kita mengistirahatkan otot-otot yang kelelahan. Namun, tidak boleh lama-lama. Sangat berbahaya terlena dalam istirahat di tengah gunung, karena matahari akan sangat cepat menghilang bila kita bermanja diri dengan istirahat.

 

Lalu perjalanan pun dilanjutkan. Satu langkah, dua langkah, naik, naik, dan terus naik. Sekian jam lagi pun berlalu…

 

“Eh, kita istirahat dulu yuk sebentar.”

“Tanggung, ayo lanjut aja. Semakin cepat naik, semakin banyak waktu istirahat kita di puncak.”

“Hah, hah, hah…tunggu…Aduh, bentar ya, kaki saya sedikit kram.”

“Berapa lama lagi kita nyampe puncak?”

“Sekian jam lagi. Semoga kita bisa nyampe puncak sebelum gelap. Nih, minum.”

“Ya udah, sambil nungguin yang kram, kita ngopdul (ngopi dulu).”

 

Mengenang beberapa jam yang lalu, kita sendiri pun heran ke mana semangat yang begitu membara di kaki gunung tadi? Kaki mulai pegal-pegal, belum lagi bahu yang tersiksa oleh ransel 65 L. Aaahh!! Rasanya ingin dibuang aja ini ransel. Duhh, pingin kencing lagi. Keluarin tissue…

 

Matahari berada di puncak. Saatnya berhenti dan mengeluarkan peralatan makan. Beras pun direbus dengan api paraffin. Berikut lauk-lauk praktis. Dendeng, ikan asin, mi, baso ikan, kornet, dan tak pernah lupa: kopi. Sendok dikeluarkan, dilap—kadang pake baju—dan pesta pun dimulai, dengan satu wadah makan untuk 3-4 orang. Sejenak, makanan yang terasa seperti makanan terlezat seplanet bumi itu pun membius rasa sakit dan lelah…

 

“Ayo brader, terus jalan. Jangan berhenti. Kalo berhenti justru malah bikin capek.”

“Hah, hah, hah, hah, hah. Bentar, bentar, udah mau gila nih. Istirahat dulu bentar aja.”

“Jangan kebanyakan istirahat. Kalo mau juga ga usah duduk, nyandar aja di pohon. Masih ada minum ga? Nih yang punya saya.”

“Heh, heh, heh, heh…thank you brader…”

 

Pohon, rerumputan, bunga, dan hamparan hijau yang amat langka di tengah kota, sebenarnya begitu indah bila diresapi dan dihayati maknanya. Namun, tetesan keringat dan penumpukan asam laktat seakan menjadi penguasa di tengah alam yang luas itu.

 

Matahari mulai turun, ia sembunyi perlahan-lahan seakan malu. Padahal tadi ia tertawa keras melihat kita yang kelelahan. Dan, malam pun tiba. Fungsi matahari pun diganti oleh senter. Wahh, ada tanah luas, cocok untuk istirahat…

 

“Berapa jauh lagi puncak?”

“Seharusnya sebentar lagi. Hah, hah. Senternya nyala semua kan?”

“Bagaimana kalau kita dirikan tenda di sini?” usul seseorang. “Ini sudah terlalu malam dan kita sudah lelah. Kita bisa makan malam dulu disini, beristirahat, besok pagi kita lanjutkan perjalanan ke puncak.”

 

Suasana pun menjadi hening. Usul tersebut benar-benar ide bagus dalam kondisi saat itu. Badan lelah. Perut lapar. Pakaian dan sepatu basah oleh keringat dan aliran air yang dilewati di tengah perjalanan. Suhu dingin pun menusuk tanpa belas kasihan. Alasan untuk berhenti sudah kuat dan lengkap.

 

“Kalau begitu, kita hanyalah camper, bukan climber.”

 

Mata mulai berkunang-kunang. Bahu mendesak untuk segera membuang ransel penyiksa. Kaki bergerak tanpa keinginan. Tidak mengerti, tidak mengerti kenapa berada di sini. Tidak peduli, yang penting terus melangkah, melangkah, dan melangkah……lalu langkah pun kian melambat.

 

“Kawan, kita sudah di puncak!!”

 

Kata-kata itu bagai hipnotis. Gairah yang tadi tertidur sejak pagi hari pun terbangun. Dan, semua tiba-tiba saja rasa lelah itu hilang, hilang tanpa bekas……bagaikan hilangnya rasa kantuk begitu keluar dari ruang kuliah.

 

Ketika matahari terbit, kita pun mengerti makna alam. Arti dari keseimbangan yang telah Allah ciptakan. Kenapa begitu sempurna dan tak ada satu pun yang bisa menirunya. Aaaaahhhhh…….ya Allah, begitu indahnya alam yang Kau ciptakan. Maha Suci dan Maha Besar Engkau, dan maha kecilnya aku di puncak gunung ini melihat alam yang membentang tanpa batas…

 

Sebelum turun gunung untuk kembali pulang, senjata rahasia yang paling wajib dibawa pun dikeluarkan: kamera. Seakan sudah lupa bahwa dahulu kita ingin menyerah dan berhenti di tengah-tengah…Dahulu? Kapan itu? Ahh, sudahlah.

 

Begitu juga dengan hidup kita bukan? Semakin hari, tantangan yang kita hadapi semakin sulit. Setiap hari kita semakin menanjak dan menanjak, tidak berjalan datar apalagi turun…karena roda dunia berputar begitu cepat sehingga menuntut kita untuk terus mendaki dan mendaki.

 

Namun, di tengah lelah dan kelemahan kita, ada teman-teman kita yang mendorong. Ia mau menunggu kita bila kita ingin berhenti sejenak, meluruskan otot-otot yang kram, bahkan membagi minumannya ketika yang punya kita habis…

 

Pasti ada masa di mana kita ingin berhenti di tengah-tengah—tepat sebelum puncak—dengan alasan sudah terlalu lelah dan sebagainya, dan mengatakan akan melanjutkan perjalanan esok paginya. Namun kawan, ternyata bukan tubuhmu yang memintamu untuk isitrahat, karena sesungguhnya mereka masih kuat. Mental lemah dan bisikan setan lah yang tak pernah lelah menggodamu…

 

Percayalah kawan, bila kita terus mendaki dan mendaki hidup ini tanpa mengeluh dan kata menyerah, akhirnya akan menjadi indah, seindah alam yang telah Allah ciptakan. Tentu kita pernah merasakan asamnya kerja keras, namun semua itu berubah menjadi manis begitu kita memperoleh hasil dari kesungguhan kita.

 

Jika kita mengalami masa-masa sulit seakan kita mau menghadap maut (UAS misalnya), percayalah pada Allah yang tak pernah memberi beban melebihi kemampuan manusia, selayaknya Ia tak pernah menciptakan gunung tinggi yang tak dapat didaki oleh manusia. Percaya jugalah akan temanmu yang akan selalu mau membantu bila ingin berhenti sejenak. Dan, percayalah pada tubuhmu sendiri—dirimu sendiri—karena ia masih kuat untuk terus maju. Begitu kuatnya hingga kau pun heran sendiri ketika berada di puncak.

Percaya pada Tuhan, percaya pada teman, percaya pada diri sendiri…

 

Hanya yang tabah sampai akhir yang mencapai puncak


*dengan beberapa kalimat yang saya kopas dari Tanri dalam notenya “Belajar Cinta di Lembah Kasih”

 

-Sabtu 22 Januari 2011, mencoba belajar untuk UAS tapi malah bikin blog

Categories: merenung | Leave a comment

Melayani dengan Profesional

“’Kam, tiap kali 10rb km, kamu cek berkala ke bengkel toyota. Gratis.’”

Ketika teringat kata-kata itu dari ayah, saya pun memerhatikan meteran di mobil. Lalu, teks-teks di hp tertulis, “Pak, mobil hakam udah 20rb km. Hakam servis berkala ya?”

“Oke, Kam. Kamu servis di mana?” bales ayah.

“Di bengkel toyota di pasteur,” balas saya, sesuai rekomendasi dari mas Digda.

 

Saya pernah ke bengkel itu ketika telah menempuh 10rb km. Saya pun mengambil buku catatan servis dan mendatangi meja seorang pegawai yang tampak sedang menganggur.

 

“Ada yang bisa saya bantu, Pak,” tanya pegawai itu.

“Saya ingin servis berkala ya,” jawab saya setengah geli setelah dipanggil “Pak”.

“Km berapa?”

“Km 20rb.”

“Oke pak, pada Km 20rb saya rekomendasikan untuk ganti busi. Biayanya sekian.” Saya terdiam karena tidak menyiapkan uang hal seperti ini.

“Di dekat sini ada ATM Mandiri ga ya?”

“Ada pak di depan. Atau ya sudah pak, businya tidak perlu diganti tapi dibersihkan saja, bagaimana?”

 

Pegawai itu pun lanjut memberikan beberapa pertanyaan. Ia pun mengatakan servis akan selesai sebelum jam16. Waktu itu jam menunjukkan pukul 14.

 

“Saya ada keluhan ya. Ketika saya ngerem mendadak, terdengar bunyi ‘grek, grek’.”

“Waktu ngerem mendadak saja atau ngerem biasa juga bunyi?”

“Ngerem mendadak aja.”

“Oh, itu wajar, Pak. Biasanya di roda depan ya? Jadi begini…” Pegawai itu pun langsung menjelaskan mengenai mekanisme kerja rem depan. Kertas bergambar part mobil pun dia ambil, sambil menunjukkan ilustrasi rem mobil.

 

“Jadi di rem ada ini dan ini. Kalo rem mendadak begini dan begini,” jelasnya. Saya memerhatikannya dengan seksama sambil pura-pura mengerti. Kasian pegawainya kalo dia menjelaskan sedemikian rupa tapi saya tidak mendengarkan.

Setidaknya, saya sedikit terkesan dengan niatnya sang pegawai menjelaskan hal yang belum tentu saya mengerti.

 

Lalu, sekitar 1 jam pun saya menunggu, berusaha membaca buku tapi akhirnya pun tertidur di kursi yang disediakan.

“Pak, sudah selesai. Kami menemukan kalo air radiatornya kurang. Bapa mau tambah airnya?”

“Tambah biaya?”

“Ya, tapi karena ini tambah, tidak akan lebih dari 35rb. Tapi kalo Bapak mau, Bapak bisa mengisinya dengan air Aqua. Khusus air Aqua saja ya pak, bukan air yang lain.” “Ya sudah deh, tambah saja air radiatornya.”

 

“Sudah selesai pak. Mari,” beberapa menit kemudian pegawai yang sama mengantarkan saya ke kasir.

“Baik, mari pak,” Ia mempersilahkan sambil mengantar saya ke mobil. Pintu pun dibukakan olehnya, dan ia menunjuk. “Itu sisa air radiatornya pak. Ada sisa sekitar ½ liter.”

“Oke, makasih ya mas.”

“Sama-sama pak,” pegawai berkaca mata itu menjulurkan tangan untuk bersalaman.

 

 

Meskipun ini adalah kunjungan saya yang kedua kalinya di bengkel itu, tapi entah kenapa yang sekarang berkesan. Dari saya masuk bengkel menyampaikan keluhan hingga keluar menuju pintu mobil, saya dilayani oleh orang yang sama, dari awal hingga akhir.

 

Yapp, pelayanan berkualitas dan memuaskan. Itulah yang menjadi prinsip-prinsip perusahaan profit, baik di penyedia produk maupun jasa. Dengan gamblang ia akan menjelaskan sedetil mungkin produk/jasa yang ia tawarkan ke pelanggan. Hal seperti ini juga saya jumpai ketika hendak membuat ATM di bank. Sang pegawai akan menjelaskan secara detil fitur-fitur dan layanan bank-nya, padahal saya cuma ingin buat ATM.

 

Senyuman lebar dan nada yang antusias tak lupa diberikan kepada setiap pelanggan, yang dalam sehari mungkin jumlahnya bisa amat banyak. Hal ini pasti sangat ditanamkan oleh para manajer perusahaan ke para pegawainya agar memaksimalkan pelayana kepada tiap customer.

 

Hmm, saya pun sedikit membandingkannya dengan profesi dokter. Dokter memiliki kemiripan dengan kegiatan seperti ini, yaitu penyedia jasa—jasa menyembuhkan pasien. Di akhir pun sama, sang pasien akan membayar tarif dokter bila mampu.

 

Namun, apakah kita, yang kelak akan menjadi dokter, siap untuk memberikan pelayanan berkualitas seperti pegawai-pegawai perusahaan di atas? Selalu memberikan senyuman, memberikan penjelasan sedetil-detilnya kepada pasien tentang penyakit yang dideritanya berikut penanganan yang akan diberikan, menjawab dengan antusias apa yang ditanyakan pasien, dan terus dilakukan berulang kali dalam sehari seperti yang dilakukan para pegawai di atas.

 

Lalu, setelah selesai pemeriksaan, maukah dokter mengantar pasiennya hingga ke pintu keluar—ke pintu mobilnya bahkan. Jika pegawai kantoran saja mampu melaksanakan itu semua—akibat penanaman nilai-nilai pelayanan dari bos-bosnya—maka dokter yang mengaku memiliki profesi mulia pun harusnya mampu memberikan pelayanan yang jauh lebih memuaskan.

 

Sebagaimana yang telah ditanamkan ke kita semua, bahwa dokter tidak hanya menyembuhkan pasien, tapi juga harus melayani, mulai dari ia masuk menyampaikan keluahan hingga ia keluar dari RS menuju kendaraannya untuk pulang.

 

Tidak hanya dalam konteks keprofesian dokter saja, tapi juga pelayanan yang lebih luas. Seseorang yang telah mengkomitmenkan dirinya untuk mengajak umat ke jalan kebenaran, atau mengabdi kepada umat, atau melayani umat sebagai pemimpin, seharusnya tidak hanya bermodalkan “niat yang baik atau ikhlas”. Ada banyak sekali di dunia ini orang yang punya niat baik, ikhlas, dan cita-cita mulia yang tinggi, tapi pada akhirnya tidak membuat perubahan apa-apa. Karena apa? Karena melayani tidak hanya butuh keikhlasan atau niat baik, tapi juga profesionalitas.

 

Prinsip dasar melayani pelanggan adalah menganggap pelanggan sebagai “raja”. Pelanggan dilayani dari awal, bila ada pertanyaan atau kebutuhan akan dipenuhi, hingga di akhir pelayanan ditutup dengan jabat tangan diiringi senyuman kepuasan.

 

Begitu juga seorang dokter, harus mau menganggap pasiennya sebagai “raja”, seorang penyeru kebenaran dan kebaikan menganggap objek seruannya adalah “raja”, seorang pemimpin melayani yang dipimpinnya sebagai “raja”.

 

Ini adalah bagian profesionalitas dalam melayani. Profesional berasai dari kata proficio yang berarti panggilan jiwa. Artinya, orang yang profesional adalah orang yang sepenuh hati. Bahkan ia akan mengupgrade dirinya sedemikian rupa untuk meningkatkan performa pelayanannya, sebagai bukti sepenuh hatinya.

 

Prinsip pelayanan profesional adalah meningkatkan kualitas pelayanannya hingga amat memuaskan orang yang dilayaninya. Ini amat diterapkan oleh perusahaan-perusahaan asing yang berasal dari negara maju, berbeda dengan  negara kita yang lebih senang perang tarif murah dan menyerang produk saingan dalam iklan televisi kita.

 

Kita ambil contoh yang lain. Salah seorang teman menceritakan pengalamannya ketika masuk ke warung kopi terkenal yang biasa dikunjungi orang-orang untuk nongkrong. Ketika masuk, ia sudah disapa dengan ramah. Lalu ketika duduk, ia langsung didatangi oleh pegawai yang lain lagi, menjelaskan berbagai jenis minumannya lengkap dengan rekomendasi hari itu. Setiap minuman yang dijual di sana mahal memang, tapi sepantaran dengan pelayanan yang diberikan.

 

Pengabdian dalam melayani orang-orang sekitar harus bergeser, dari pelayanan sederhana dan seadanya bermodalkan keikhlasan dan niat baik, menjadi pelayanan yang profesional, bermodalkan ilmu yang mendukung dan performa yang mantap, dan dengan jiwa yang sepenuh hati.

 

Melayani tanpa profesionalitas dan antusiasme jiwa mungkin bermanfaat bagi objek pelayanan, tapi tidak akan membuat perubahan besar. Jika para pegawai kantoran melakukan itu semua bermotivasikan gaji  dan bonus, para pengabdi masyarakat dan negara seharusnya bisa melakukan lebih karena termotivasikan nilai-nilai yang tertanam dalam dirinya. Nilai-nilai yang begitu langka dan luhur sehingga tidak bisa dihargai dengan materi.

 

Setidaknya, balasan Allah berupa surga yang seluas langit dan bumi merupakan motivasi yang tidak bisa dibandingkan dengan lembaran-lembaran kertas persegi panjang bertuliskan angka.

diketik di hari Jumat 21 Januari 2011 pasca service berkala km 20rb di auto2000 pasteur

Categories: gajelas | Leave a comment

Mensyukuri Musibah (10 Januari 2011)

Hari Senin 10 Januari 2011, sekitar jam 12.40

baru saja aku tertimpa musibah..

setelah beberapa langkah kumantapkan di anak-anak tangga menuju musola Asy-Syifaa’,

sebelum tiba di puncaknya sempat saya menyapa Frodo dengan senyum seadanya.

seperti biasa dan tanpa berpikir panjang, aku langsung melepas sepatu, meletakkan tas di dalam masjid, dan melangkahkan beberapa langkah lagi menuju tempat wudhu..

 

Lalu beberapa menit kemudian, aku pun sudah berposisi bersedekap,

dan dalam beberapa menit yang lain lagi, leherku sudah kugelengkan ke kanan dan kiri.

 

Aku langsung menyapa Azhar, untuk mengantarnya membawa tas-tasnya yang sempat tertahan di mobil,

dan sebelum turun aku pun mengambil tasku lagi…

 

Hmm…

Hmmm…

Di mana ya? Hmm…

Aneh, benar-benar aneh

Tak pernah terbersit sedikit pun dalam pikiranku, bahkan mungkin dalam pikiran orang-orang yang duduk di sekitar situ…

 

“Sir, lo lihat tas gw ga?”

 

Ya…

telah hilang:

sebuah tas hitam merk Oakley,

beserta catatan-catatan pribadi dan catatan-catatan persiapan ujian

sebuah modem dan kabelnya, dan tentu saja barang yang selalu kubawa dalam tas:

Laptop dan chargernya (yang baru saja dibeli oleh orang tua saya di Jepang)

 

“Hahaha…pertanyaan terlucu of this year,” kata seorang teman setelah mendengar saya menanyakan tas

“Koq bisa?”

“Kamu disimpan di mana?”

“Ketinggalan kali…”

“Kamu tadi ke sini bawa tas?”

 

Tidak diragukan lagi, hanya beberapa menit saya berpisah dengan tas hitam itu…

Aneh, benar-benar aneh, dan (sama sekali) tidak lucu!

 

Tapi, ada yang berbeda…

 

diam-diam, saya mensyukuri musibah ini

Tak ada sama sekali ekspresi murka, tapi yang ada hanya senyuman (seperti orang tolol)

Tapi, ini musibah, bukan? Musibah yang terjadi di dunia

 

yang…

akan menjadi penebus musibah di akhirat nanti,

tidak mengapa fasilitasku hilang

atau cacian orang tua kan kuterima

asalkan itu semua dapat menghapus dosa-dosa dan kesalahanku

 

yang amat banyak…

sungguh banyak…

benar-benar banyak sekali, kawan…

banyak……..

 

bahkan andaikata, akibat kecelakaan ini proses belajar terganggu dan ujian nanti tidak memuaskan…

tidaklah mengapa, jika itu bisa menjadi penawar dosaku,

jika itu bisa mendatangkan ampunanMu ke dia yang (sadar merasa) hina

 

Ya Allah…sesungguhnya aku hanya ingin bertobat kepadaMu

dan memohon ampunanMu

dan ketenangan jiwa dariMu

 

“Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim…”

 

10 Januari 2011

-akan kukenang sebagai hari bertobat

 

ditulis pada Selasa 11 Januari 2011, mengenang peristiwa hilangnya tas hitam beserta segala isinya

Categories: gajelas | Leave a comment

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: