Bekam dan Skeptisnya Dokter

Michael Phelps melakukannya. Ia berhasil mematahkan rekor yang dipertahankan Leonidas sejak 2.168 tahun yang lalu. Setelah berhasil memenangkan lomba renang 200 meter, medali emas individu ke-13 miliknya tercatat sebagai raihan terbanyak sepanjang sejarah olimpiade. Hingga akhir lombanya di cabang estafet 400 meter, Phelps total merengkuh 23 medali emas. Hasil ini membuatnya menjadi atlet olimpade paling sukses yang pernah ada.

Ini merupakan keempat kalinya Phelps meraih emas di lomba pesta olah raga paling bergengsi di dunia. Namun, ada yang tidak biasa di olimpiade Rio kali ini. Ia tertangkap foto memiliki banyak bekas lingkaran kemerahan di tubuhnya layaknya habis terkena tembakan paintball. Kita akhirnya tahu bahwa ia melakukan cupping atau bekam.

MIchael Phelps dan bekas bekam

MIchael Phelps dan bekas bekam

Mengapa mereka melakukannya? Kompatriot Phelps, Alex Naddour, yang berpartisipasi di cabang Gymnast, mengatakan dengan berbekam ia merasa lega dari nyeri otot yang diderita akibat latihan. Itu pula yang menjadi “rahasia” bagaimana ia menjaga kesehatan. Bahkan bekam menurutnya lebih baik daripada bayaran yang ia keluarkan untuk hal lain. Tampaknya, bekam tidak hanya dilakukan oleh atlet asal Amerika, karena bekas lingkaran merah itu terlihat di tubuh atlet dari berbagai negara. Bagi mereka, bekam adalah hal terbaik untuk menghilangkan pegal dan menjaga performa.

Meskipun olympian menganggap bekam sebagai sarana terbaik untuk penampilan mereka, kalangan ilmiah memiliki pandangan lain. Di website berita Independent asal Inggris, seorang professor farmakologi asal London mengatakan bahwa melakukan bekam hanyalah “buang-buang waktu”. Tidak ada penelitian yang menunjukkan manfaat dari bekam. Para praktisi bekam sendiri pun mengakui bahwa tidak ada fondasi ilmiah dari praktek tersebut. Manfaat dari bekam selama ini hanya diketahui berdasarkan pengalaman dan testimoni para penggunanya.

Dokter pun hingga saat ini masih skeptis dengan bekam atau pengobatan-pengobatan tradisional lainnya. Hal ini wajar karena bagi dokter, setiap obat atau tindakan yang dilakukan harus berdasarkan bukti-bukti yang teruji. Mengapa pengobatan yang dilakukan dokter selalu seputar pemberian obat-obatan kimia dan tindakan operasi? Karena penelitian telah membuktikan hal tersebut memang mampu memberikan kesembuhan bagi manusia.

Pengobatan tradisional atau alternatif banyak sekali jenisnya di dunia ini. Indonesia sendiri sejak zaman dahulu memiliki tradisi pengobatan dengan meminum minuman herbal atau jamu. Tapi, jika kita datang ke dokter mengeluhkan masuk angin, dokter tidak akan meresepkan jamu, melainkan obat-obatan kimiawi. Hal ini jelas karena dalam pendidikan kedokteran tidak dipelajari mengenai jamu.

Seorang guru besar di kampus saya mengatakan bahwa menjadi ilmuwan itu harus skepstis. Dokter, profesi yang pekerjaannya selalu berdasarkan penelitian ilmiah, bersifat skeptis dengan segala pengobatan, hingga akhirnya pengobatan tersebut telah terbukti secara ilmiah. Ini menjelaskan mengapa para dokter Indonesia, contohnya, tidak menyetujui dibukanya praktek “Jaket Warsito” untuk pengobatan kanker. Orang-orang bisa bilang melalui berbagai testimoni mengenai kemampuan jaket tersebut. Namun, kedokteran bukanlah ilmu testimoni. Dokumentasi bahwa pasien justru mengalami kondisi yang lebih buruk akibat mengenakan jaket tersebut juga tidak sedikit. Apalagi, praktek pengobatan itu dilakukan oleh seorang yang tidak berlatar belakang medis—yang tidak mempelajari ilmu dasar medicine seperti anatomi dan fisiologi. Tidak bisakah dokter untuk tidak skeptis?

Walau begitu, kedokteran tidaklah sepenuhnya ilmu hitam di atas putih. Setiap dokter pasti diajarkan bahwa tugas mereka bukanlah mengobati penyakit atau organ tubuh, melainkan mengobati manusia. Tentu harus disadari bahwa manusia bukanlah makhluk mati rasa layaknya robot. Ilmu komunikasi yang baik selalu menjadi kurikulum wajib dalam pendidikan kedokteran. Komunikasi di sini jelas bukan kepada organ tubuh atau sel-sel, melainkan manusia, makhluk yang punya rasa dan punya hati.

Mungkin sering dijumpai seseorang datang berkonsultasi ke dokter kemudian berkata bahwa jika mengalami demam, ia akan meminum madu atau habbatussauda atau obat herbal lain. Atau bertanya apakah jika mengalami nyeri punggung ia bisa menghilangkannya dengan berbekam. Bagaimana seharusnya dokter menjawab? Apakah dengan mengatakan, “Tidak perlu, itu hanya buang-buang waktu!”?

Jika itu yang dikatakan, secara keilmuan adalah benar, namun secara komunikasi adalah sangat buruk. Kita tidak boleh lupa, ilmu kedokteran takkan pernah bisa dilepaskan dari komunikasi yang baik.

Jika menghadapi kondisi di atas, saya selalu diajarkan, jawaban terbaik adalah, “Silakan. Tapi kalau setelah minum obat herbal demamnya tidak turun juga selama 3 hari, atau penyakitnya semakin parah, silakan kembali ke dokter.” Ini adalah sebuah win-win solution. Pasien dapat melakukan apa yang diyakininya dan dokter telah melaksanakan tugasnya berupa edukasi kesehatan.

Itu hanya salah satu contoh saja. Pun dengan pengobatan tradisional/alternatif yang lain. Selama diketahui bahwa pengobatan itu tidak menyakiti atau membuat lebih parah, pasien akan dipersilakan untuk melakukannya, dengan catatan jika kondisi tidak membaik kembalilah ke dokter.

Kondisi berbeda jika pengobatan tradisional itu jelas-jelas memperburuk keadaan. Contoh sederhana adalah jika mengalami patah tulang. Dokter akan melarang atau tidak akan merekomendasikan ke tukang urut. Kenapa? Karena menurut keilmuan mereka, jika mengalami patah tulang, hal pertama yang dilakukan adalah jangan menggerakkan bagian tubuh yang patah; itu hanya akan membuat patahan semakin luas dan merusak jaringan sekitar. Hal sebaliknya justru dilakukan tukang urut yaitu malah menggerak-gerakkannya. Hal terburuk, patah sederhana bisa menjadi komplikatif, yang dapat berujung kepada amputasi.

Ilmu kedokteran juga tidaklah bersifat menutup diri dari kemungkinan-kemungkinan yang ada. Ia pada hakikatnya mau membuka diri dengan pengobatan herbal atau tradisional, jika memang ternyata terbukti ilmiah. Ilmu kedokteran sendiri mengakui obat-obat herbal yang memang telah teruji secara klinis, atau fitofarmaka, dan dokter yang memiliki pemahaman tentang fitofarmaka tidak akan segan untuk meresepkannya. Begitu pula, contohnya, dengan jaket Warsito. Sejatinya dokter menerima ide tersebut dengan baik. Namun, karena belum terbukti, dan dikhawatirkan malah dapat membahayakan pasien, praktek tersebut harus dihentikan hingga secara ilmiah teruji. Sayang, salah satu anak bangsa terbaik tersebut, DR. Warsito, pada akhirnya meneruskan penelitiannya di Eropa.

Hal yang sama berlaku untuk bekam/cupping/hijama. Praktek ini memiliki sejarah yang sangat panjang, mundur hingga 1500 SM ke Mesir Kuno sana. Bekam sendiri sebenarnya merupakan praktek kedokteran yang sangat populer zaman dulu. Bahkan beberapa sumber menyebutkan bahwa Hippocrates, bapak kedokteran dunia, menyarankan bekam. Setelah scientific method atau metode ilmiah menjadi landasan para ilmuwan, bekam mulai ditinggalkan. Tapi hal ini tidak menutup kemungkinan untuk meneliti bekam dalam metode ilmiah. Jika pada akhirnya terbukti, para dokter di seluruh dunia tidak akan ragu untuk merekomendasikannya.

Segala kemungkinan sangat terbuka di dunia kedokteran. Masih banyak rahasia-rahasia alam yang belum terkuak. Hal yang dulu dianggap buang-buang waktu, bisa saja menjadi standar pengobatan ke depannya. Dahulu, para dokter merasa tidak perlu melakukan cuci tangan sebelum melakukan tindakan. Kala itu, bakteri atau kuman dianggap takhayul. Setelah terbukti, cuci tangan menjadi hal yang sangat—sangat sangat—wajib bagi seluruh tenaga kesehatan. Begitu juga, misalnya, dengan “kerokan”. Sekilas, praktek semacam itu hanya akan menimbulkan reaksi radang, hingga akhirnya pada tahun 2005 Universitas Airlangga mencari tahu tentang itu. Penelitian itu menunjukkan kerokan dapat merangsang pengeluaran senyawa kimia penghilang nyeri dan sebaliknya menghilangkan senyawa penimbul nyeri. Memang penelitian itu bukanlah uji klinis dan hanya menggunakan sampel yang sedikit, tapi setidaknya sudah ada landasan bahwa kerokan bukanlah hanya buang-buang waktu.

Di sinilah mengapa setiap manusia tidak punya hak untuk meninggikan diri. Bahkan sains yang dipuja-puja di era materalis saat ini oleh ilmuwan sendiri disebut sebagai sesuatu yang fragile. Seberapa sering di buku kuliah kedokteran terdapat tulisan, “…not fully understood”? Sains atau ilmu pasti tidaklah selalu bersifat pasti. Apa yang dahulu dianggap ilmiah bisa dianggap takhayul di kemudian hari. Begitu pula apa yang dianggap mitos hari ini bisa saja merupakan suatu fakta di masa depan. Ya, karena Sang Pemilik Ilmu, Tuhan Semesta Alam, sudah mengatakannya kepada manusia:

“…dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al Israa’: 85)

 

Categories: gagasan, kesehatan, merenung | Tags: , , , | Leave a comment

“Dokter Itu Lulusan Mana Sih!?”

Capture

Ada seorang lelaki, berusia sekitar 40 tahun, datang ke UGD sebuah rumah sakit. Ia terbaring lemas di atas blangkar, menunggu diperiksa. Dokter umum yang bertugas pun mendatanginya dengan mata sedikit mengantuk. Maklum, jam sudah menunjukkan lewat tengah malam.

“Dok, perut saya kok rasanya ga enak, ya?”

“Di mana?” tanya dokter.

“Di sini,” jawab bapak itu sambil meletakkan tangan di atas perutnya.

Sang dokter menekan bagian ulu hati, lalu bapak itu kesakitan. Tak lama, perawat diinstruksikan untuk memaksukan obat-obatan injeksi. Sekitar setengah jam kemudian, pasien merasa sedikit enakan. Obat minum diresepkan dan kemudian bapak itu dipulangkan.

Saat matahari mulai meninggi di langit, sang bapak datang lagi ke UGD. Hanya saja saat itu kondisinya memburuk. Dokter dinas pagi langsung memeriksanya. Saat ditanya, keluhannya sama, yaitu nyeri di ulu hatinya. Tapi, bapak itu terlihat sangat tersiksa.

Singkat cerita, pasien itu didiagnosis mengalami serangan jantung setelah dilakukan pemeriksaan rekam jantung. Sang dokter jaga pun bertanya kepada istri pasien.

“Sakitnya sudah berapa lama?”

“Dari tengah malam dok. Tadi sekitar jam 2 pagi kami sudah ke UGD,” jawab sang istri.

“Loh, tadi malam sudah ke sini? Terus, dilakukan apa sama dokternya?”

“Cuma dikasih obat penghilang nyeri saja dok. Setelah nyerinya agak berkurang, oleh dokter jaganya dibolehkan pulang.” jelas istri pasien.

“Wah, kalau bapak punya sakit di ulu hati harus waspada bu. Bapak kan punya riwayat darah tinggi. Sakit jantung kadang nyerinya tidak di dada, tapi bisa juga ulu hati. Kalau tidak segera diobati bisa berbahaya,” jelas dokter.

“Oh, begitu ya dok? Waduh, untung kami segera kembali ke sini ya dok. Soalnya kata dokter semalam ini cuma sakit asam lambung biasa.”

“Iya bu,” kata dokter sembari tersenyum. “Seharusnya semalam diperiksa rekam jantung. Kenapa bisa tidak diperiksa ya? Saya tidak tahu itu dokter semalam lulusan mana.”

***

Kalimat itu sepertinya bukanlah hal asing bagi yang bekerja sebagai klinisi. Ketidaktepatan diagnosis dan pengobatan bukan hal yang jarang terjadi, dengan berbagai faktor penyebabnya. Bisa terjadi karena tanda-tanda dan keluhan pasien yang tidak khas, minimnya alat pemeriksaan penunjang, tenaga kesehatan yang terlalu capek sehingga turun konsentrasinya, atau bahkan karena faktor ilmu dan pengetahuan yang kurang.

Ilmu yang dimiliki setiap dokter berbeda-beda. Dokter spesialis sudah pasti memiliki ilmu dan skill yang lebih dibanding dokter umum. Pengetahuan tiap dokter umum pun juga bisa berbeda. Ilmu kedokteran identik dengan pengalaman klinis, sehingga dokter umum yang telah bekerja di rumah sakit selama bertahun-tahun pasti lebih luas wawasannya ketimbang yang baru internsip. Apalagi kalau dokter umum itu sudah mengikuti berbagai macam pelatihan, tentu memiliki nilai lebih.

Harus kita pahami bahwa seorang dokter yang berpraktek berarti ia telah dianggap kompeten. Seluruh pengetahuan dan keterampilan yang minimal dimiliki oleh dokter telah dikuasainya. Apakah ia tepat dalam mendiagnosis dan merawat seorang pasien, tentu dipengaruhi oleh beberapa hal. Tapi, hal tersebut tidak serta merta menafikan kompetensinya sebagai seorang dokter.

Bertanya seorang dokter lulusan dari kampus mana tidaklah relevan. Ketika seorang sudah berjas putih, tersematkan gelar dokter atau spesialis di papan namanya, orang-orang sudah tidak peduli latar belakangnya. Apakah ia lulusan dari universitas di barat, atau timur, yang masyarakat inginkan hanyalah bagaimana agar mendapat pelayanan yang baik. Kualitas kerja dan pengetahuan seseorang juga rasanya tidak etis jika dikaitkan dengan institusi asalnya. Yang menentukan kinerja ialah orang itu sendiri, bukan tempat ia mengenyam pendidikan. Apalagi ketika sang dokter sudah lulus; semua keputusan dan tindakan yang ia buat sudahlah bukan lagi tanggung jawab universitas.

Manusia memang tempatnya penyakit hati, dan mungkin kita akan merasa bangga apabila berhasil menemukan diagnosis yang tepat atas suatu penyakit yang sebelumnya telah diobati namun tak kunjung membaik. Demi menunjukkan kepintaran di hadapan pasien, dengan santainya disampaikan bahwa pengobatan yang diberikan oleh dokter sebelumnya adalah ngaco. Hal itu diungkapkan sekedar untuk melampiaskan rasa bangga, atau mungkin supaya pasien itu kembali ke kita lagi karena dianggap cerdas. Tapi, tidak sadarkah bahwa pernyataan merendahkan sejawat secara terang-terangan semacam itu justru akan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap dokter?

Saat ini kredibilitas dokter tengah terjatuh ke lembah yang amat curam. Maraknya pemberitaan negatif dari media, seperti anggapan bahwa dokter itu sering menolak pasien BPJS, sudah amat banyak memengaruhi masyarakat kita. Para (oknum) pengacara juga tidak akan lelahnya mencari klien untuk ia dorong supaya mau menuntut dokter ke pengadilan; apalagi tujuannya kalau bukan uang? Terakhir, kasus pemukulan dokter di suatu rumah sakit akibat hebohnya pemberitaan vaksin palsu semakin menyudutkan posisi dokter Indonesia. Akankah kelak seluruh warga Indonesia lebih senang berobat ke dokter asing?

Demi kemaslahatan, pasien yang merasa tidak mendapat pengobatan yang tepat dari dokter sebelumnya mesti ditenangkan oleh dokter yang tengah menanganinya. Perlu dipahamkan bahwa dokter sebelumnya tidaklah bertujuan mencelakakan, dan yang terpenting adalah ia sudah ditangani dengan benar. Apa yang akan terjadi jika si dokter itu malah ikut memanas-manasi? Beruntung jika pasien tidak cukup punya banyak waktu untuk menyewa pengacara, tapi jangan remehkan kekuatan “mulut ke mulut”. Yang jatuh martabatnya bukan hanya dokter yang disebut, tapi dokter secara keseluruhan. Kalau berobat ke dokter pun bisa mendapat penanganan yang salah, kenapa tidak ke dukun saja?

Dokter yang mendengar bahwa ia direndahkan oleh sejawatnya akan memiliki 2 respon: menyerang balik atau, ini yang lebih berbahaya, berkecil hati. Jika sudah berkecil hati, tidak mustahil untuk gantung stetoskop. Padahal, kesalahan yang dilakukan mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan manfaat yang telah diberikan.

Haruskah pendidikan selama 6 tahun yang begitu melelahkan harus sia-sia begitu saja karena perkataan menyakitkan dari rekan seprofesinya? Setiap orang bisa berbuat salah, dan sebaik-baik yang berbuat salah ialah yang belajar untuk memperbaikinya. Sebaliknya, seburuk-buruk yang berbuat salah ialah yang berputus asa.

Kita harus belajar lebih mendalam lagi tentang sikap respek. Kesalahan penanganan yang ditambah hinaan tidak akan menyelesaikan masalah, tidak akan membuat kondisi pasien membaik. Jauh lebih baik memberikan masukan langsung kepada dokter yang melakukan kesalahan tersebut, daripada mengumbar-umbarnya di depan pasien atau perawat.

Ini juga menjadi pemicu bagi setiap dokter untuk terus belajar. Walau terus menggali ke dasar bumi sekalipun, pengetahuan tentang kesehatan manusia tidak akan ada habisnya. Bukankah Tuhan tidak memberikan manusia ilmu melainkan hanya sedikit? Menuntut ilmu mungkin tidaklah melulu menggelontorkan segepok uang untuk ikut seminar atau simposium. Buku-buku bacaan ketika kuliah yang tersimpan rapih di lemari, selama tidak terlalu jadul, sebagian besarnya masih relevan. Terlebih di masa sekarang, teknologi amat memanjakan kita untuk mengakses pembelajaran ke berbagai sumber, selama memiliki keinginan.

Agaknya mari diingat kembali dengan apa yang telah diucapkan ketika akan menjalani profesi ini. Semua dokter telah mengucapkan sumpahnya, bahwa “…Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagaimana saya sendiri ingin diperlakukan.” Bukankah tidak pernah ada orang yang ingin direndahkan oleh orang lain, terlebih oleh teman seprofesi? Komunikasi yang baik dan rasa saling menghormati akan menjaga nama baik profesi ini di hadapan masyarakat, sebagaimana juga yang telah diucapkan dahulu, “…Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur kedokteran.”

Categories: kesehatan, merenung | Tags: , | 2 Comments

Why Always Us?

images

Mereka berkata ada seorang yg tengah berduka
Ia miskin dan papa, bukan orang berada
Tak ada yg ia punya, termasuk jamkesmas atau BPJS utk mengobati luka
Tanpa tetek bengek itu tak ada RS yg mau menerimanya
Muncullah judul “Dokter Menolak Pasien Miskin” berukuran mega di media

Why always us?

Mereka berkata tentang kesejahteraan yg menyedihkan
Para buruh berteriak di megaphone melantangkan keadilan
Guru-guru menangisi isi kantong yg merana dan penuh penderitaan
Begitu pula para dokter dan sejawat dunia kesehatan yg menginginkan perbaikan
Tapi katanya dokter tidak boleh komersil, hidupnya hanyalah pengabdian

Why always us?

Mereka menceritakan ttg kepergian seseorang yg ditangisi
Sudah semua prosedur dan tatalaksana ilmiah telah dijalani
Tapi mungkin mereka menganggap seorang yg berjas putih itu adalah dewa dan dewi
Lupakah bahwa yg menyembuhkan dan mencabut nyawa itu adalah Ia Yang Maha Menguasai?
Alaahh, tak peduli! Yg penting si dokter pemegang pisau harus dihakimi

Why always us?

Kini, mereka tidak mau terima dengan kepalsuan
Sy ingin bertanya secara tulus, apakah mereka benar-benar berpikir dokter itu ingin menyakiti pasien yg membutuhkan bantuan?
Apakah nama dan latar belakang profesi para oknum tidak mereka baca dengan pelan?
Tidakkah dipikir bahwa yg memberi suntikan itu sama saja dengan mereka, yaitu tidak tahu apa-apa?
Daripada memukul dan menyandera dokter, kenapa tidak kau potong saja tangan mereka yg jelas-jelas terdakwa?

Why always us?

Tapi biar saja apa mereka mau berkata
Tugas dokter hanyalah melayani dan bekerja, menjadi perpanjangan tangan Tuhan Semesta
Bagi mereka yg telah meninju dan menghina, dan juga Ribka Tjiptaning yg sibuk mencari simpati rakyat jelata
Jika membutuhkan bantuan, pastilah akan dilayani sepenuh hati dan tenaga
Dengan segera dokter yg melayani akan melupakan masalah lalu yg dibuat oleh Anda

Why always us? Karena kami adalah dokter

Categories: gumam sendiri, merenung | Tags: , , | Leave a comment

Yth Pemerintah Republik Indonesia, Dokter Itu Pelayan Kesehatan, Bukan Algojo

Sudah baca Perppu Kebiri?

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016, atau yang lebih dikenal sebagai “Perppu Kebiri”, masih ramai dibicarakan hingga sekarang. Perppu yang berisi perubahan dari Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak ini mengundang kontroversi karena adanya hukuman berupa mengebiri secara kimia. Tampaknya peraturan ini dikeluarkan karena desakan sebagian masyarakat untuk “mengebiri” para pelaku pemerkosa khususnya bila korbannya anak-anak.

Tapi apakah kebiri itu memang hal yang benar-benar diperlukan?

Perubahan yang dilakukan oleh Perppu ini ialah pada pasal 81 dan pasal 82 UU nomor 23 tahun 2002. Kata kebiri disebutkan dalam pasal 81. Bukan seperti yang kita duga, kebiri secara kimiawi bukanlah bentuk hukuman utama, melainkan tambahan. Suntik kebiri dilakukan bagi pelaku pemerkosaan setelah ia menjalani pidana pokok, yaitu hukuman mati, penjara seumur hidup, atau pidana hukuman penjara minimal 10 tahun dan maksimal 20 tahun.

Apakah bila pelaku sudah divonis hukuman mati atau penjara seumur hidup, masih perlu dikebiri?

Terdapat juga pasal tambahan yaitu 81A yang menerangkan bahwa kebiri kimia ini hanya dilakukan paling lama 2 tahun. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) telah menjelaskan dalam press release mereka bahwa kebiri kimia tidaklah bersifat permanen. Jika efek obatnya habis, maka hasrat seksual dapat tumbuh kembali. Artinya tindakan kebiri kimia tersebut tidak ada maknanya lagi setelah 2 tahun. Hanya buang-buang uang saja.

Sebenarnya, apakah tujuan, apa yang ingin dicapai dari hukuman kebiri ini? Jika tujuannya untuk mematikan gairah syahwat para penjahat seksual, kenapa hanya dilakukan selama 2 tahun? Kalau pun pada akhirnya dibuat bahwa pengebirian kimia dilakukan seumur hidup demi mencapai tujuan tersebut, tentu sebuah penzaliman karena suntik hormon antiandrogen terus-menerus akan membuat laki-laki berubah seperti perempuan. Tidak hanya payudara tumbuh, tapi juga menimbulkan efek samping lain seperti tulang keropos, gangguan pembuluh darah, hingga gangguan kejiwaan.

Lagipula, pada suatu kejahatan seksual, sebenarnya yang salah apakah nafsu sex itu sendiri atau sikap dan perbuatan sang pelaku?

Sudah pasti kita sepakat yang salah bukanlah hasrat sex—setiap manusia sehat memilikinya—melainkan perilakunya. IDI juga merekomendasikan bahwa rehabilitasi, salah satunya rehabilitasi kepada pelaku, merupakan hal yang penting guna mencegah kejahatan yang sama. Orang-orang yang melakukan tindakan kekerasan demi melampiaskan nafsunya, apalagi kepada anak-anak, tentu miliki gangguan pada kejiwaannya (catatan: gangguan jiwa tidak berarti selalu “gila”). Bisa saja mereka adalah korban pornografi sehingga mengalami adiksi, atau dalam pengaruh minuman beralkohol. Yang perlu diperbaiki bukanlah nafsu sexnya, melainkan pola pikir dan perilaku, juga mengobati adiksi jika ada, agar dapat melampiaskan gairah mereka di jalan yang halal.

Pasal 81A menyebutkan bahwa tindakan kebiri kimia disertai dengan rehabilitasi. Tentu ini semakin membingungkan. Jika memang ada rehabilitasi, untuk apa ada kebiri lagi? Pidana pokok, yaitu hukuman mati, penjara seumur hidup, atau penjara belasan tahun disertai rehabilitasi seharusnya sudah cukup untuk menimbulkan efek jera dan mencegah kejahatan yang sama berulang.

Dokter Bukan Algojo

Karena tindakan kebiri dilakukan dengan cara menyuntikkan obat penurun hasrat sex, tentu peran dokter tidak bisa dielakkan. Buah dari Perppu ini adalah penunjukan dokter sebagai ekskutor hukuman kebiri. Atas dasar inilah, IDI mengeluarkan pernyataan bahwa mereka tidak ingin dilibatkan.

13423988_1733533950267925_4362028114590634350_n

Setiap dokter, sebelum dilantik, mengucapkan sumpah profesi mereka. Sebelum menjalani praktek, mereka bersumpah untuk membaktikan diri demi kepentingan kemanusiaan, mengutamakan kesehatan penderita, dan menghormati setiap hidup insani mulai dari pembuahan. Tugas dokter adalah melayani penderita agar memperoleh kesembuhan, bagaimana agar orang yang terbaring sakit dapat menjalankan aktvitas kembali, hingga memberikan pencegahan agar masyarakat sehat selalu.

Menugaskan dokter untuk menyuntikkan obat agar fungsi tubuh manusia yang normal menjadi terganggu tentu melanggar sumpah profesi dan tugas utama mereka. Bukankah profesi dokter ada untuk membuat orang yang sakit jadi sehat, bukan menyakitkan orang yang sehat?

Ini tidak hanya tentang hukuman kebiri. Walaupun banyak dokter yang setuju agar kejahatan seksual dihukum mati, mereta tetap tak akan setuju jika diminta menjadi eksekutor suntikan mati. Hal tersebut sudah menyalahi fitrah profesi dokter.

Berita-berita miring mengenai dokter sampai sekarang masih belum berhenti. Jika ada efek samping suatu pengobatan, atau penyulit yang sulit dihindari, sehingga mengakibatkan kesakitan hingga kematian, seringkali dokter disalahkan. Kita masih ingat karena emboli paru yang susah untuk diperkirakan, seorang dokter kandungan masuk penjara.

Memang dokter bukanlah makhluk yang sempurna. Seorang yang telah memakai jas putih dan memakai kalung stetoskop bukan berarti sudah pasti mampu memberi kesembuhan. Walaupun sudah diberi tindakan dan pengobatan sesuai dengan ilmu yang paling mutakhir, dokter tetap tidak bisa memberi kepastian. Ada banyak faktor bermain di sini. Mulai dari kondisi gizi, sifat kuman yang resisten, keadaan umum yang sudah buruk, hingga “Yang Di Atas”. Pada akhirnya, dokter bukanlah pemberi jaminan kesembuhan, melainkan hanya menerapkan ilmu-ilmu yang telah dipelajari untuk memberikan pelayanan sebaik-baiknya.

Namun sayangnya profesi dokter belum banyak dipahami masyarakat. Memang tugas dokter untuk berkomunikasi dengan baik agar dapat memberi pengertian. Tapi, bila dokter telah bertransformasi menjadi bukan hanya pelayan kesehatan tapi juga algojo, hal ini semakin menjelekkan persepsi masyarakat terhadap dokter. Bukan hal yang jarang kita menakuti anak-anak yang nakal dengan, “Awas kalau nakal nanti disuntik dokter!” Jadilah anak-anak menganggap dokter makhluk yang menyeramkan. Ditambah lagi pandangan bahwa dokter adalah ekskuktor pidana, kesan bahwa dokter itu sahabat masyarakat bisa menjadi semakin hilang. Kepercayaan orang-orang untuk berobat ke dokter akan semakin menurun. Kita pun akan bercanda, “Awas, nanti dikebiri sama dokter!”

Sayangnya dan sayangnya lagi, pernyataan sikap IDI tidak dipahami dengan baik. Wakil presiden kita malah mengatakan tidak semua dokter itu anggota IDI. Inilah mengapa sebaiknya sebelum meminta suatu profesi melakukan tindakan, dipahami terlebih dahulu tentang profesi tersebut. Setiap dokter harus menjadi anggota IDI. Jika tidak terdaftar sebagai anggota IDI, maka dia tidak punya hak praktek. Bisa saja dia bergelar dokter, tapi tidak memiliki sama sekali kewenangan klinis seperti memeriksa, memberikan obat, hingga menyuntik. Dan pak Wapres juga harus tahu, bahwa dokter polisi dan dokter TNI—semua dokter—juga merupakan anggota IDI.

Hal yang menjadi kekhawatiran selanjutnya adalah ketika institusi seperti Polri dan TNI, memerintahkan anggotanya yang merupakan dokter untuk menjadi eksekutor. Ini akan menjadi dilema bagi dokter tersebut. Perintah atasan, jika tidak dipatuhi, bisa dihukum bahkan dipecat. Tapi dokter polisi juga terikat dengan sumpah profesi. Jadi bagaimana? Yahh…sudah pasti pilihan yang berat.

Lagi-lagi muncul pertanyaan, apakah yang ingin dicapai dari suntik kebiri selama 2 tahun ini? Apa tujuannya? Apakah sebelum Perppu ini dikeluarkan, efektivitas dan dampaknya sudah dipikirkan masak-masak? Apakah dokter selaku pihak yang paling mengerti mengenai kebiri kimia dilibatkan dalam diskusi sebelum dikeluarkan peraturan?

Peran dokter yang paling tepat bagi kasus pemerkosaan hingga penganiayaan adalah sebagai pemberi rehabilitasi. Sesuai dengan pernyataan IDI, mereka sangat mendorong jika dilibatkan dalam program rehabilitasi kedua belah pihak. Bagi korban untuk menghilangkan trauma kejiwaan, dan bagi korban untuk mencegah terulangnya kejahatan yang sama. Dokter tetap bekerja dengan memberikan pelayanan kesehatan.

Yang Terhormat Pemerintah Republik Indonesia, dengarlah aspirasi para dokter. Mereka juga adalah masyarakat, yang terikat dengan sumpah profesi untuk mengobati, bukan menyakiti. Atau setidaknya, daripada memaksa dokter polisi melanggar kode etik mereka, bukankah lebih baik dilakukan duduk bersama terlebih dahulu untuk mendapatkan solusi?

Atau jika memang ngotot ingin melaksanakan peraturan ini—entah tujuannya apa—lebih baik beri pelatihan para jaksa untuk menyuntik di bokong.

Categories: gagasan, kesehatan, merenung | Tags: , , , , | Leave a comment

Adakah ‘Hari Tanpa Tembakau Sedunia’ Memiliki Arti Bagi Indonesia?

Awal-awal tahun 2015 kemarin, seorang pelawak Stand Up Comedy masuk IGD Rumah Sakit dalam keadaan kesakitan. “Rasanya seperti mau mati,” begitulah ia mendeskripsikan keadaannya kala itu. Dodit Mulyanto, komik asal Blitar, kemudian divonis mengidap penyakit jantung koroner dan harus dirawat dengan pengawasan ketat di ICU.

Loh, kenapa bisa sakit jantung? Bukankah Dodit masih muda? Bahkan usianya belum mencapai kepala tiga, yaitu baru 29 tahun. Tapi terkena serangan jantung? Bukankah biasanya penyakit ini baru dialami usia 40 tahun ke atas? Apa penyebabnya?

Karena rokok. Seleb tersebut mengatakan bahwa ia memang perokok. Kandungan racun dalam rokok yang banyak dihisapnya akhirnya mengakibatkan gangguan pembuluh darah jantungya hingga membuat sumbatan.

Tren serangan jantung akibat sumbatan pembuluh darah koroner kini semakin bergeser ke usia muda. Bukan hal yang aneh lagi jika IGD didatangi orang usia 30 tahun mengeluh sakit dada. Muncul keringat dingin sampai menetes, mual-mual, dan rasa sakit yang seperti dihimpit atau ditekan seolah nyawanya hendak dicabut saat itu juga. Bagi Anda yang sekarang berusia 20 tahunan pun jangan merasa dirinya aman dari serangan mematikan ini. Tidak perlu usia tua bagi rokok yang Anda hirup untuk merusak jantung dan pembuluh darahnya.

Kemarin, dunia memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) atau World No Tobacco Day. Peringatan yang diinisiasi oleh WHO ini berulang setiap tanggal 31 Mei. Pada tahun 2016 ini, WHO mengusung tema “Get Ready for Plain Packaging” atau kemasan sederhana untuk bungkus rokok. Lembaga dunia ini berargumen bahwa kemasan harus dibuat sederhana untuk menghindari informasi salah yang disuguhkan pabrik rokok dan menurunkan minat masyarakat terhadapnya. Setidaknya, di Australia metode ini terbukti efektif menjatuhkan angka perokok.

Kampanye WHO pada World No Tobacco Day 2016

Kampanye WHO pada World No Tobacco Day 2016

Sebagai lembaga kesehatan dunia, WHO gencar mengajak negara-negara di dunia untuk menekan angka perokok. Tampaknya para pemimpin dunia merespon inisiatif tersebut dengan baik. Terbukti, pada konferensi WHO di Abu Dhabi, Maret 2015, disebutkan terjadi penurunan penggunaan rokok dan meningkatnya jumlah nonperokok di dunia.

Bagaimana dengan Indonesia?

Yang terjadi adalah sebaliknya. Di Indonesia, jumlah perokok cenderung naik tiap tahunnya. Jika pada tahun 2001 angka perokok sebesar 9,5% dari total penduduk, pada tahun 2013 menjadi 18%.

Saat ini pun negara-negara di dunia menggerakkan jemari kebijakannya ke pengontrolan tembakau. Pada awal 2005, WHO mencanangkan perjanjian kesehatan publik global pertama di dunia. Konvensi yang disebut dengan “Framework Convention on Tobacco Control” atau FCTC ini menjabarkan 38 artikel yang berisi komitmen yang harus dilakukan setiap negara di dunia untuk mengontrol tembakau. Beberapa di antara komitmen tersebut adalah menyederhanakan pelabelan bungkus rokok, melarang segala jenis iklan, menaikkan harga dan cukai rokok, dan program pemerintah untuk menyembuhkan masyarakat dari adiksi rokok. Konvensi ini telah ditandatangani 168 negara dan memiliki 180 negara anggota.

fctc-wallpaper - Copy

Di mana posisi Indonesia?

Tidak ada. Dari 180 negara dunia tersebut, tidak ada nama “Indonesia”. Negara terakhir yang menjadi anggota konvesi FCTC adalah Zimbabwe. Tahu Zimbabwe? Ya, negara ini mengalami krisis dan inflasi parah pada 2009, yang mengakibatkan dolar Zimbabwe menjadi mata uang sampah. Uang 100 miliar dolar Zimbabwe hanya bisa membeli 3 butir telur. Pada 2015, pemerintah menawarkan rakyatnya untuk menukarkan uang lokal dengan Dolar AS, dengan nilai 1 USD = 35.000 triliun dolar Zimbabwe. Walaupun demikian, ternyata negara ini lebih menghargai nyawa rakyatnya daripada Indonesia.

Anggota dewan dan pemerintah selalu berkilah bahwa mereka tidak mau meratifikasi FCTC untuk melindungi petani tembakau dan perekonomian negara. Indonesia memang surga tembakau. Banyaknya pabrik rokok yang berdiri diklaim memberi pendapatan pajak yang sangat besar dan memperkerjakan banyak masyarakat menjadi petani tembakau.

Sebuah alasan omong kosong.

Menurut Prof. Hasbullah Thabrani, professor kesehatan masyarakat dari Universitas Indonesia, penghasilan petani tembakau tidak akan menurun dengan turunnya konsumsi rokok. Penghasilan petani tembakau terbilang sedikit karena industri rokok lebih banyak impor tembakau, yaitu sekitar 2/3 dari seluruh kebutuhan.

Selain itu, industri rokok sangatlah tidak manusiawi. Berdasarkan data WHO, pabrik rokok memberikan upah buruh yang paling rendah dibandingkan industri lainnya. Sebagai gambaran, tahun 2008 industri makanan memberi upah sebesar 886,5 ribu rupiah, sedangkan buruh rokok hanya mendapat 753,4 ribu rupiah. Begitu pula nasib para petaninya. Lembaga Demografi Universitas Indonesia menyatakan petani tembakau hanya diberi upah 15.000-17.000 untuk 5-7 jam kerja per hari. Angka ini tidak sebanding dengan resiko sakit yang diterima akibat kontak terus-menerus dengan tembakau.*

Jika dikatakan cukai rokok memberi penghasilan besar, berapakah kerugian negara akibat rokok?

Kerugian yang ditimbulkan dapat dihitung dari total tahun produktif yang hilang akibat penyakit yang berhubungan dengan tembakau, total pengeluaran masyarakat untuk membeli tembakau, dan biaya kesehatan yang dikeluarkan akibat penyakit yang berhubungan dengan tambakau. Komnas Pengendalian Tembakau menyatakan, setelah ditotal, kerugian yang diakibatkan sekitar 245,41 triliun rupiah per tahunnya. Besaran ini tidak sebanding dengan pemasukan negara dari industry rokok sebesar 80 triliun per tahunnya.*

Diperliharanya pabrik rokok di Indonesia juga hanya merugikan masyarakat miskin. Bisa dibayangkan, 70% dari perokok di Indonesia adalah orang miskin yang menyisihkan 20% pendapatannya untuk membeli rokok. Yang lebih menyedihkannya lagi, uang yang dikeluarkan untuk rokok 5 kali lipat lebih besar dibandingkan untuk membeli asupan nutrisi keluarga.*

Belum lagi masyarakat miskin jarang berobat dan mengontrol kesehatan mereka karena pendidikan dan kesadaran yang kurang, akses ke fasilitas kesehatan yang sulit, tidak biaya transportasi, dan lain-lain. Jadilah mereka datang dalam keadaan sudah stroke atau serangan jantung atau penyakit-penyakit parah lainnya. Memang sih mereka ter-cover Jamkesmas atau BPJS, sehingga biaya pengobatan dibayar oleh negara. Jadi, berapa pengeluaran yang mesti dibayarkan negara gara-gara rokok?

Lalu, siapakah yang paling untung dari industri ini?

Jelas pengusaha rokok. Berkat produk adiktif yang menyengsarakan orang miskin, mereka menjadi salah satu dari orang-orang terkaya di Indonesia. Padahal, belum tentu mereka sendiri merokok. Tentu saja bukan? Kalau merokok, mereka akan terancam penyakit-penyakit kronis dan berbahaya, sehingga bagaimana bisa menikmati kekayaan yang ada? Sebuah logika yang sederhana saja.

Tidak ingin kekayaan yang sudah besar tersebut hilang, mereka pun bisik-bisik kepada anggota dewan dan pemerintah. Segala upaya dilakukan agar Indonesia tidak ikut meratifikasi FCTC dengan jurus yang disebutkan tadi: menyelematkan petani tembakau dan perekonomian negara. Dibuat pula isu-isu bahwa FCTC hanyalah kepentingan pihak asing untuk meruntuhkah keuangan negara yang menerima banyak pendapatan dari rokok.

Tanggal 31 Mei kemarin, dunia memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Australia telah memerintahkan pabrik rokok agar menyederhanakan bungkusnya. Cina melarang adanya mesin penjual rokok di wilayah negaranya. Negara-negara Eropa sudah lama melarang iklan rokok di seluruh media massa. Sedangkan Indonesia, jumlah perokok usia muda terus meningkat akibat tertarik dengan iklan rokok yang terkesan keren dan harganya yang murah.

Tidak perlu lagi dituliskan bahaya tembakau di sini. Setidaknya, kisah pilu yang menimpa Robby Indra Wahyuda bisa menjadi renungan bagi kita semua. Lelaki yang baru berusia 27 tahun ini sengaja memamerkan ceritanya bahwa lehernya dilubangi. Kisah ia mengalami kanker pita suara disebarluaskan agar tumbuh kesadaran bagi yang membacanya. Saat difoto, ia masih tersenyum. Tapi akhirnya, pemuda yang seharusnya masih memiliki masa depan panjang ini harus tewas dibunuh rokok.

Robby Indra Wahyuda

Robby Indra Wahyuda

Namun tampaknya ini tidak berarti apa-apa bagi para orang atas negara ini. Hati mereka sudah dilapisi semen oleh para pengusaha tembakau agar tidak tersentuh kisah menyedihkan tersebut. Begitu pula peringatan HTTS kemarin, tidak berarti apa-apa. Agaknya, rakyat harus terus berteriak keras agar dapat memecahkan kotoran bernama keangkuhan yang telah memenuhi telinga mereka.

 

keterangan:

*: dikutip dari Kertas Posisi YLBHI-RUU Pertembakauan, bisa diakses di sini

 

Categories: kesehatan, merenung | Tags: , , , , , , | 1 Comment

Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,320 other followers

%d bloggers like this: